Makalah Perencanaan dan Model Pengembangan Kurikulum

Konsep Perencanaan Kurikulum dan Model-Model Pengembangan Kurikulum

 Mata Kuliah : Manajemen Kurikulum”

 logo_unj

Disusun oleh :

Dita Rosmaya                                   1445110638

 

 

MANAJEMEN PENDIDIKAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA


Kata Pengantar

 

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Kurikulum. Dalam makalah ini kami membahas tentang konsep perencanaan kurikulum dan model-model pengembangan kurikulum.

Penyusun  mencoba memberikan suatu pemahaman yang berguna untuk pembaca. Serta mengembangkan minat untuk mempelajarinya. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, kami sangat menantikan tanggapan, kritik dan saran dari segenap pembaca.

Dengan demikian semoga makalah yang kami buat dapat berguna dan memenuhi kebutuhan bagi kita semua.

Jakarta, Februari 2013

Penyusun

 

 

 

 

 

Daftar Isi

 

Kata Pengantar ………………………………………………………………………………………………….  i

Daftar Isi …………………………………………………………………………………………………………….  ii

Bab I : Pendahuluan

  1. Latar Belakang ………………………………………………………………………………………..  1
  2. Tujuan …………………………………………………………………………………………………….  2
    1. Manfaat…………………………………………………………………………………………………… 2

Bab II : Isi

  1. Meninjau definisi kurikulum ……………………………………………………………………  3
  2. Membedah Peran Penting Kurikulum …………………………………………………….  6
  3. Kurikulum Ibarat Pondasi Rumah…………………………………………………………… 13
  4. Model-Model Pengembangan Kurikulum ……………………………………………….  16

Bab III : Kesimpulan …………………………………………………………………………………………..  29

Daftar Pustaka …………………………………………………………………………………………………..  30

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. 1.    Latar Belakang

      Sebagai suatu sistem, pendidikan nasional haruslah dikelola dengan tepat agar sebagai subsistem sebagai pembangunan nasional, tujuan sisdiknas seperti yang diminta dalam pasal Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 dapat tercapai secara efisien dan efektif.  Khususnya pada Pendidikan Dasar perlu mendapat perhatian khusus. Kurikulum yang ada sekarang bukan saja terlalu “overload”. Sebagai konsekuensi logis dari kurikulum yang sentralistik, juga karena proses penyusunan sampai pada pelaksanaan dan evaluasi kurikulum masih steril dari jamahan masyarakat.

                  Dalam rangka penyermpurnaan sistem pendidikan nasional sebagaimana diamanatkan oleh pasal 31 UUD 1945 pelaksanaan produk hukum tersebut masih harus diuji dilapangan dan sebagaimana biasanya dalam pelaksanaannya dihadapi kerikil-kerikil sebagai hambatan yang disebabkan oleh berbagai hal. Terlepas dari msalah yuridis, terdapat dua pola pemikiran atau asumsi yang mendiminasi kontroversi ini. Asumsi satu : mutu pendidikan akan dapat ditingkatkan apabila ditangani secara efisien artinya, berbagai sumber yang  mempengaruhi terjadinya proses pendidikan perlu ditangani secara jelas, terkendali, dan terarah. Kurikulum diarahkan dan diperinci, guru diarahkan dan ditugaskan, sarana dan dana pendidikan diprogramkan secara efisien asumsi ini dapat disebut asumsi pedagogik. Asumsi dua : pendidikan yang merupakan kebutuhan dasara dari setiap warga negara merupakan kewajiban pemerintah, dalam hal ini unit pemerintah yang paling depan, untuk melaksanakannya pendidikan menjadi salah satu masalah pembagian wewenang kekuasaan, antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

  

  1. 2.    Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah :

  1. Mengetahui tentang konsep dasar perencanaan kurikulum dan model-model pengembangan kurikulum.
  2. Mahasiswa mampu menganalisis tentang tata cara merencanakan kurikulum dengan mempertimbangkan model-model pengembangan kurikulum yang ada agar pendidikan dapat berjalan sesuai dengan tujuannya.
  3. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa khususnya dalam merencanakan kurikulum
  1. 3.    Manfaat

Melalui penulisan makalah ini diharapkan kita bisa lebih memahami bagaimana kegiatan penyusunan dan pengelolaan kurikulum apakah sudah sesuai dengan kenyataan, dan juga model-model pengembangan kurikulum. Sehingga kita bisa mengurangi kesalahan-kesalahan yang akan terjadi. Selain itu penulis juga berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya mahasiswa Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Melalui makalah ini diharapkan pembaca dapat lebih memperkaya ilmu tentang perencanaan dan pengembangan kurikulum.

BAB II

ISI PEMBAHASAN

  1. A.  Meninjau definisi kurikulum

Di Indonesia, istilah kurikulum menjadi populer sejak tahun 1950-an yang diperkenalkan oleh sejumlah kalangan pendidikan lulusan Amerika Serikat. Sebelumnya, kita lebih akrab dengan istilah rencana pembelajaran. Hakikatnya kurikulum sama dengan rencana pembelajaran yang membedakan hanyalah cara pandangnya. Hilda Taba dalam buku Curriculum Development, Theory, and Practice mendefinisikan kurikulum sebagai plan of learning, yakni sesuatu yang direncanakan untuk pelajaran anak. Ada pula sejumlah pendapat pakar yang berbeda mengenai kurikulum

J. Galen dan William M. Alexander dalam buku Curriculum Planning of Better Teaching and Learning memberikan definisi kurikulum sebagai the sum total of school’s effort to influence learning, whether in the classroom, on the playground or out of school. Oleh karenanya, segala usaha sekolah guna mempengaruhi anak belajar, apakah dalam ruangan kelas, di halaman sekolah, atau diluar sekolah disebut kurikulum. Termasuk juga dengan kegiatan ekstrakurikuler.

Harold B. Albertys dalam buku Reorganizing the High School Curriculum mencermati kurikulum sebagai segala kegiatan yang difasilitsi oleh sekolah demi kepentingan siswa. B. Othanel Smith, W. O. Stanley dan J. Harlan Shore memandang kurikulum sebagai rangkaian kegiatan potensial yang dapat diberikan kepada anak supaya mereka dapat berpikir dan berbuat sesuatu dengan masyarakatnya.

Willian B. Ragan dalam buku Modern Elementary Curriculum menjelaskan arti kurikulum sebagai all the experiences of children for which school accepts responsibility. It denotes the result of effort on the part of the adults of the community and the nation to bring the children the finest, most whole some influences that exist in the culture.

Ragan menggunakan kurikulum dalam arti yang luas mencakup semua program dan kehidupan dalam sekolah. Kurikulum tidak hanya mencakup bahan pelajaran, namun seluruh kehidupan dalam kelas, hubungan sosial antar guru dan murid, metode mengajar, dan cara mengevaluasi juga termasuk didalamnya.

J. Lloyd Trump dan Delmas F. Miller dalam buku Secondary School Improvement berpendapat bahwa kurikulum mencakup metode mengajar dan belajar, car mengevaluasi murid dan semua program, perubahan tenaga mengajar, bimbingan dan penyuluhan, supervisi dan administrasi, dan hal-hal structural mengenai waktu, jumlah ruangan serta kemungkinan memilih mata pelajaran.

Alice Miel menyatakan dalam buku Changing the Curriculum bahwa kurikulum meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan, dan sikap orang-orang yang melayani dan dilayani sekolah, yakni anak didik, masyarakat, para pendidik dan personalia (termasuk penjaga sekolah, pegawai administrasi, dan orang lain yang memiliki hubungan dengan murid). Oleh karenanya, kurikulum meliputi segala pengalaman dan pengaruh yang bercorak pendidikan yang didapat anak di sekolah. Definisi Miel tersebut sangat luas. Tidak hanya pengetahuan, kecakapan, kebiasaan, sikap, apresiasi, cita-cita, dan norma. Namun, juga pribadi guru, kepala sekolah, dan seluruh pegawai sekolah.

Sedangkan Ronald C. Doll menjelaskan bahwa kurikulum merupakan keseluruhan pengalaman yang ditawarkan pada anak-anak peserta didik dibawah arahan dan bimbingan sekolah. Dede Rosyada kemudian memberikan uraian singkat bahwa pengalaman yang diperoleh siswa dari program-program yang ditawarkan sekolah amat variatif, tidak sebatas pembelajaran dalam kelas, tetapi juga lapangan tempat mereka bermain di sekolah, kantin, bahkan bus sekolah. Semua itu memberikan kontribusi pengembangan pengalaman yang mempengaruhi perubahan-perubahan pada diri mereka. Ini menjadi fakta bahwa pelaksanaan kurikulum pendidikan yang berupaya semaksimal dan seoptimal mungkin guna melahirkan praktisi pendidikan memberikan paradigm yang mendidik.

Atas dasar tersebut, Sukmadinata dalam Dede Rosyada memiliki beberapa prinsip yang dapat dipegang guna memahami pemaknaan kurikulum sejatinya sehingga kurikulum betul-betul diletakkan sebagai pijakan dasar dalam melaksanakan pendidikan secara praktis dan konkret sebagai berikut :

  1. Kurikulum sebagai substansi, yakni rencana kegiatan belajar para siswa di sekolah, mencakup rumusan-rumusan tujuan, bahan ajar, proses kegiatan pembelajaran, jadwal, dan hasil evaluasi belajar. Kurikulum tersebut merupakan konsep yang telah disusun oleh para ahli dan disepakati oleh para pengambil kebijakan pendidikan serta oleh masyarakat sebagai bagian dari hasil pendidikan.
  2. Kurikulum sebagai sebuah sistem, yakni merupakan rangkaian sebuah konsep tentang berbagai kegiatan pembelajaran yang masing-masing unit kegiatan memiliki keterkaitan secara koheren dengan lainnya. Kurikulum itu sendiri memiliki korelasi dengan semua unsure dalam sistem pendidikan secara keseluruhan.
  3. Kurikulum merupakan sebuah konsep yang dinamis, terbuka, dan membuka diri terhadap berbagai gagasan perubahan serta penyesuaian dengan tuntutan pasar atau tuntutan idealism pengembangan peradaban umat manusia.

Robert Gagne menegaskan bahwa kurikulum adalah bagian dari isi dan bahan pembelajaran yang digambarkan dengan sedemikian rupa sehingga pembelajaran setiap unit dan dituntaskan sebagai satuan utuh. Masing-masing unit menggambarkan kompetensi siswa yang dikuasai.

Oleh sebab itu kurikulum harus mencakup segala hal, baik yang berhubungan langsung dengan kebutuhan anak didik di sekolah maupun tidak. Hal ini membutuhkan cakupan holistic dan komprehensif. Mengabaikan hal lain yang berada diluar kebutuhan langsung anak didik akan memutuskan jaringan anak didik ketika berada di luar sekolah atau setelah lulus dari sekolah. Diakui maupun tidak, baik secara mikro maupun makro. Kurikulum akan menuntut nasib pendidikan anak didik, baik ketika masih berada dalam lingkungan pendidikan sekolah maupun ketika sudah berada di luar sekolah. Dengan demikian, menyusun dan membuat konkret anak didik, baik jangka pendek, menengah, dan panjang.

Kurikulum menjadi kunci sukses maupun gagalnya sebuah pendidikan yang akan digelar oleh guru dan sekolah. Kurikulum memberikan pengaruh besar terhadap dinamika pendidikan dan perkembangan kedewasaan anak didik kedepannya. Ketelitian dalam penyusunan kurikulum harus diupayakan perwujudan nyatanya supaya menghasilkan output pendidikan yang berkualitas. Kurikulum senyatanya harus dibuat oleh kelompok dalam disiplin terkait.

Pendidikan akan mampu melahirkan anak-anak bangsa yang cerdas dan terampil ketika kurikulum yang dibangun dan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Muatan-muatan yang terkandung dalam kurikulum sebangun dengan kecakapan dasar anak didik sehingga mereka mudah mengikuti praktis pendidikan yang dijalankan. Jika tidak, kurikulum justru akan semakin menyulitkan anak didik untuk mengembangkan bakat dan potensi. Mereka akan terbebani dengan persoalan yang kian membelenggu sehingga pendidikan menjauhkannya dari realitas lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu, kurikulum yang tepat dan mampu dinikmati dengan sedemikian enak oleh anak-anak didik ketika muatan di dalamnya memberikan kesenangan dan tidak membawa stress.

Idealnya, kurikulum menjadi pemandu yang bisa memberikan arahan-arahan fleksibel dan lentur. Memberikan nuansa kemerdekaan hidup bagi anak didik untuk melakukan aktualisasi diri sedemikian rupa. Secara revolusioner dan radikal, Y. B Mangunwijaya menegaskan bahwa perubahan sistem pendidikan, sebut saja kurikulum pendidikan, harus dimulai dengan memperhatikan tingkat sekolah dasar. Itulah tulang punggung bagi pendidikan selanjutnya. Merupakan ekosistem dan basis strategis bagi evolusi humanisasi bangsa.

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang diharapkan mampu membekali peserta didik dengan aneka pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap dasar yang memungkinkan peserta didik tumbuh menjad imanusia yang utuh, warga Negara yang berakhlak mulia, terampil, bertanggung jawab, dan memiliki keterlibatan sosial, baik dengan pendidikan formal lanjutan maupun tanpanya. Oleh sebab itu kurikulum tingkat dasar harus memberikan penguatan yang matang terhadap peserta didik.

  1. B.  Membedah Peran Penting Kurikulum

Prof. Dr. Soedijarto, M. A. mengatakan bahwa sekolah merupakan lembaga sosial yang keberadaannya merupakan bagian dari sistem sosial negara bangsa. Ia bertujuan untuk mencetak manusia susila yang cakap, demokratis, bertanggung jawab, beriman, bertaqwa, sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kepribadian yang mantap dan mandiri, dan lain sebagainya. Soedijarto lebih jauh mengatakan bahwa pencapaian itu akan bisa diraih ketika ada suatu proses yang terencana dengan efisien, efektif, dan relevan. Agar tujuan tersebut tercapai maka dibutuhkan kurikulum yang kuat, baik secara infrastruktur maupun superstruktur.

Apa kurikulum yang dimaksud tersebut ?

Kurikulum hanya akan efisien dan efektif menjalankan fungsi pendidikan bila dilaksanakan oleh guru yang memiliki kemampuan professional. Bila muncul pertanyaan selanjutnya, apakan peran penting yang dipegang oleh kurikulum sehingga strategis dalam pembangunan pendidikan yang berkualitas ? Jawabannya, kurikulum secara hakiki adalah jalan yang harus ditempuh peserta didik guna mencapai tujuan program pendidikan. Tanpa adanya kurikulum yang jelas maka tuuan pendidikan yang akan dicapai akan menjadi buyar. Bila tidak disebut demikian maka tujuan pendidikan yang dihasilkan pun tidak akan sesuai dengan target yang diraih. Oleh sebab itu, kurikulum merupakan penunjuk arah kemana pendidikan akan dituntun dan diarahkan atau akan menghasilkan output pendidikan seperti apa. Oleh karenanya, hal mendasar yang kemudian harus menjadi perhatian dan pertimbangan penting dalam kurikulum adalah identifikasi tujuan pendidikan yang harus dicapai para peserta didik.

Ini penting untuk membuat gambaran umum dan khusus ke mana materi pendidikan akan diajarkan kepada peserta didik, termasuk metode ajar, monitoring dan evaluasi akhir. Dalam proses identifikasi, secara umum akan menggambarkan kompetensi, pengetahuan, dan sikap yang dikuasai oleh lulusan pendidikan dalam wilayah studi kurikulum yang kemudian disebut tahap pertama perencanaan kurikulum. Setelah disebutkandan diuraikan sejumlah tujuan pendidikan yang akan dicapai oleh peserta didik, selanjutnya dirancang struktur program pendidikan yang memuat jenis-jenis mata pelajaran, latihan, dan bobot mata pelajaran dalam alokasi jam pelajaran. Setelah kurikulum satuan pendidikan tuntas dirancang dan diselesaikan maka akan memasuki tahap mengembangkan kurikulum yang mencakup penyusunan garis besar program belajar mengajar (pengembangan kurikulum suatu materi pelajaran) dan pengembangan program pembelajaran.

Setelah kurikulum satuan pendidikan ditetapkan maka akan diketahui kedudukan setiap mata pelajaran. Hal penting yang harus dipahami adalah setiap mata pelajaran harus harus dipegang oleh seseorang yang memiliki disiplin terkait supaya kemudian melahirkan satu kinerja professional. Ketika hal demikian berada dalam proses identifikasi mata pelajaran maka ada beberapa pertanyaan dasar yang juga harus diperhatikan.

Pertama, mengapa dan untuk apa – dilihat dari pencapaian tujuan pendidikan pendidikan – mata pelajaran harus dipelajari peserta didik ? Kedua, apa yang harus dicapai dengan mempelajari bidang studi dari mata pelajaran tertentu ? Jawaban atas pertanyaan kedua ini akan mengerucut pada rumusan tujuan yang disebut dengan tujuan kurikulum.

Beberapa hal yang penting dijalankan untuk melahirkan kurikulum yang bermutu adalah :

  1. Menyusun pokok-pokok bahasan bidang studi yang secara potensial dapat dijadikan objek belajar yang relevan untuk mencapai tujuan.
  2. Memilih pokok bahasan bidang studi yang paling relevan sebagai objek belajar guna mencapai tujuan kurikulum yang telah ditetapkan.
  3. Menyusun deskripsi setiap pokok bahasan yang telah dipilih sehingga jelas.
  4. Mengurutkan pokok-pokok bahasan secara logis dan psikologis agar dapat dipertanggungjawabkan.

Supaya kurikulum yang dibangun tersebut kemudian bisa menjadi serangkaian pengalaman pembelajaran yang relevan dengan kehidupan peserta didik, masih perlu dikembangkan lebih lanjut mengenai program pembelajaran ini. Aktivitas ini kemudian diserahkan kepada penanggung jawab studi atau pengampu mata pelajaran supaya dilakukan penyesuaian bahan aja yang dibutuhkan oleh peserta didik. Pengampu mata pelajaran terkait harus menguasai bidang studi yang dibebankan padanya, memahami karakteristik peserta didik yang akan dihadapinya, memiliki berbagai model pembelajaran sehingga bisa mendialogkan mata pelajaran tersebut secara lebih lentur, menguasai teknologi pendidikan sebagai pelengkap proses pembelajaran supaya lebih efektif bagi penunjang proses belajar mengajar dan mampu melakukan evaluasi dengan objektif. Pertanyaannya sekarang, mampukah kita melahirkan kurikulum yang sedemikian rupa ?

Hal tersebut menjadi tanggung jawab para pendidik dan sekolah apaila kurikulum diandaikan sebagai bagian terpenting dalam proses pendidikan. Secara tegas, kurikulum dalam kondisi apa pun, baik di dalam sekolah kota maupun desa, mendukung keberhasilan proses pendidikan. Kurikulum menentukan arah dan kemajuan output pendidikan dan memberikan kualitas pendidikan yang diinginkan. Tanpa kurikulum atau perencanaan pembelajaran yang dilakukan secara sistematis, mustahil pendidikan melahirkan hasil luar biasa.

Menurut Dr. E. Mulyasa, M. Pd., kurikulum merupakan kumpulan perangkat perencanaan dan pengaturan tentang tujuan, kompetensi dasar, materi dasar, hasil belajar, serta penerapan pedoman pelaksanaan aktivitas belajar guna meraih kompetensi dasar dan tujuan pendidikan. Mencermati apa yang dimaksud Mulyasa tersebut, kurikulum sangay menentukan awal, proses, dan akhir pembelajaran. Kurikulum menjadi pengawal dinamka pendidikan yang ditunjukan untuk mencerdaskan anak-anak didik. Lebih jauh lagi, Mulyasa mengatakan agar kurikulum menekankan pada proses pendidikan yang berupaya untuk membangkitkan keinginan, komitmen, kesadaran, dan kemauan anak didik supaya gemar dan rajin membaca, menulis, berhitung, dan berkomunikasi. Dengan demikian, ini membuka ruang kecerdasan anak duduk yang tidak hanya berpatokan pada kemampuan kognitif, namun juga mengarah pada pembangunan soial-minded­.

Prof. Dr. Soedijarto, M. A. mengatakan bahwa kurikulum memegang peran penting bagi pembangunan dan pembentukan sebuah karakter bangsa. Bila dijelaskan lebih detail, kurikulum itu menanamkan nilai-nilai nasionalisme terhadap anak-anak bangsa sehingga mencintai bangsanya sebagaimana mencintai diri sendiri dan keluarganya. Kurikulum yang memuat nilai seperti itu mampu menjadikan bangsa ini kokoh dan utuh. Dengan demikian, anak-anak didik akan memilik impian besar supaya bangsanya tetap menjadi bangsa maju dan tidak bergantung pada bangsa-bangsa lain.

Bahkan, kurikulum sebagaimana yang dijelaskan Soedijarto mengandung nilai religus berupaya bisa mendidik anak-anak bangsa supaya mengenal Tuhan dan memiliki kekuatan agama. Selain itu, kurikulum juga harus mampu menyuntikan kesadaran humanis sehingga mereka menjadi anak-anak yang bertanggung jawab terhadap setiap amanah yang diamanatkan padanya. Diakui mampu tidak pula, kurikulum memiliki sumbangsih besar bagi perubahan pendidikan. Sebab, ini akan melahirkan perubahan konsep kurikulum yang secara terus menerus.

Dengan kata lain, proses pembelajaran dalam kelas selalu berpatokan pada kebutuhan dan kepentingan anak didik agar dipenuhi. Dalam konteks demikian, tuntutan kurikulum melahirkan konsep pendidikan yang maju dan progresif. Suka maupun tidak, hal demikian harus dijalankan secara serius dan konkret apabila menginginkan dinamika dalam pendidikan. Dengan demikian, peran penting kurikulum secara lebih tegas dioptimalkan. Pertanyaannya, perubahan seperti apa yang harus dimiliki kurikulum supaya semakin strategis dalam mencapai hasil pendidikan yang berkualitas ? Secara jelas, harus dilakukan evaluasi secara terus menerus dari proses pendidikan yang telah dilakukan dan dicapai mulai dari metode mengajar yang diterapkan, bahan materi yang digunakan, dan prinsip penilaian penilaian akhir prestasi anak didik.

Ini sesungguhnya menjadi hal mendasar yang harus dikerjakan supaya perubahan kurikulum menyentuh persoalan dan kebutuhan di lapangan. Jangan sampai menimbulkan persoalan yang menyebabkan matinya proses pendidikan. Siapa pun setuju bahwa perkembangan kurikulum sebagai bagian dari reposisi menjadi pertaruhan keberhasilan pendidikan. Pola pengembangan kurikulum harus memberikan arah-arah kemajuan dan perbaikan. Sudah menjadi tanggung jawab untuk dikerjakan ketika hal demikian sudah dirancang secara matang. Menjadi hal utama ketika pengembangan kurikulumm lebih menunjukkan prestasi pendidikan  yang membanggakan. Menjadi harapan ideal ketika perkembangan kurikulum mampu mengakomodasi segala kebutuhan pendidikan, baik jangka pendek, menengah, dan panjang. Itulah tujuan utama dari pengembangan kurikulum.

Kurikulum harus menampung segala potensi dan bakat anak didik yang bisa diaktualisasikan secara konkret dan praktis. Perkembangan kurikulum bisa membuka peluang-peluang baru bagi proses pendidikan yang lebih hebat dan dinamis. Dalam konteks demikian, pengembangan kurikulum tidak semata berdasarkan kebutuhan realitas yang dapat ditangkap lewat panca indera, namun juga hati, pikiran, dan insting masa depan. Oemar Hamalik memberi penjelasan lebih terinci mengenai pengembangan kurikulum, yaitu :

  1. Berorientasi tujuan. Pengembangan kurikulum diniatkan supaya berpegang pada tujuan pendidikan nasional. Merupakan gabungan dari tujuan satuan dan jenjang pendidikan. Hal tersebut mengandung aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai guna untuk membangkitkan tingkah laku anak didik yang terkandung dalam tujuan pendidikan nasional.
  2. Relevan. Pengembangan kurikulum semestinya mencakup tujuan, isi, dan sistem penyampaian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan siswa sehingga sangat mempengaruhi pendidikan yang menyentuh realitas.
  3. Efisien dan efektif. Pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan aspek efisien dalam menggunakan dana, waktu, tenaga, dan sumber-sumber yang tersedia agar bisa melahirkan hasil yang memuaskan. Dengan kata lain, dana yang tersedia harus digunakan untuk kebaikan dan keberhasilan pendidikan. Hal tersebut sama halnya dengan waktu, tenaga dan lain seterusnya.
  4. Fleksibilitas. Ini terkait dengan kebutuhan dalam sebuah lokal tertentu. Apabila anak-anak didiknya berada dalam alam agraris maka kurikulum yang digunakan harus memuat pendidikan yang bernuansa agraris dengan memasukkan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk pengembangan lahan pertanian.
  5. Kontinuitas. Kurikulum harus dibangun secara berkesinambungan. Seluruh bagian dalam kurikulum disusun secara sistematis sesuai dengan jenjang dan tingkat pendidikan anak didik. Sengan demikian, keterkaitan aspek tersebut akan membantu  pendidik dan siswa dalam proses pembelajaran.
  6. Kesinambungan. Agar kurikulum dapat berjalan dengan sedemikian berhasil maka perlu memperhatikan berbagai program dan sub program antara mata ajar dan aspek perilaku yang ingin dikembangkan. Hal itu akan membentuk jalinan yang lengkap sehingga memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan pribadi anak didik.
  7. Terpadu. Kurikulum harus dirancang dan dilaksanakan secara terpadu, mulai dari topik atau masalh serta konsistensi antara unsur-unsurnya. Ini melibatkan semua pihak, baik dilingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah yang bersifat lintas sektoral. Dengan demikian, ini membentuk pribadi anak didik yang tangguh dan kuat. Ini juga harus dilaksanakan antara anak didik dan pendidik sebagai pelaksana utama dalam pembelajaran.
  8. Mutu. Supaya kurikulum memilii bobo yang kian baik maka kualitas pendidik, kegiatan belajar mengajar seperti metode mengajar, peralatan dan beberapa aspek penting lainnya yang menunjang digelar. Ini diharapkan mampu melahirkan bentuk nyata pengembangan kurikulum yang akan mendorong perwujudan tujuan pendidikan nasional. Akhirnya, pengembangan kurikulum menampakkan hasil konkret yang bisa dinikmati seluruh konsumen pendidikan mulai dari tingkat dasar, menengah, atas, bahkan perguruan tinggi.

Kurikulum harus memberikan perspektif baru dalam proses pendidikan. Ini akan menjadi kunci utama dalam keberhasilan pendidikan. Konsep teori dan teknis yang harus dibangun mendasarkan pada kebutuhan dan kepentingan di tingkat lapangan. Kurikulu yang baik adalah yang mampu menangani dialog dengan persoalan-persoalan nyata di tengah masyarkat. Kurikulum membangun kesadaran supaya peserta didik nantinya bisa lebih akrab dengan hal-hal disekelilinganya. Namun, jangan sampai memberikan materi belajar yang jauh dari lingkungan kehidupan. Tidak menceoki peserta didik dengan sekian materi ajar yang susah diterjemahkan dalam ranah sosial. termasuk pula tidak menggiring peserta didik untuk melupakan realitas sosial dimana mereka berada dan melakukan aktivitas sosial.

Ini merupakan hal penting yang harus dicermati. Kurikulum hadir untu menggambarkan bagaimana masyarakat bisa dijelaskan secara ilmiah dan terperinci sehingga peserta didik dapat mengenal lingkungan secara baik. Oleh sebab itu, penerapan kurikulum bisa dicapai dengan sempurna jika diperkuat oleh basis-basis lain sebagai proses pendidikan yang berkualitas. Rumus sederhananya, peserta didik berhasiil mencapai tujuan pendidikan masing-masing ketika perangkat-perangkat yang disiapkan untuk mencapai tujuan pendidikan dimatangkan secara seruis dan terpadu.

Dengan kata lain, tujuan pendidikan harus bisa disebangunkan dengan segal perangkat yang ada agar pendidikan yang berkualitas bisa direngkuh dengan baik. Seluruh hal penting yang terkait pencapaian pendidikan berkualitas harus bisa diselenggarakan secara maksimall dan optimal. Bila bangsa ini kemudian diharuskan memiliki peradaban besar dan tinggi maka pendidikan pun harus bisa dilakoni secara berdaya guna.

  1. C.  Kurikulum Ibarat Pondasi Rumah

Menurut ilmu teknik sipil, kuatnya fondasi rumah akan menguatkan bangunan selanjutnya dari rumah tersebut. Lebih lanjut disebutkan, fondasi diramu dengan segala jenis tanah berkualitas, ditambah campuran semen yang banyak, dilengkapi pasir dengan segala campuran lainnya, akan menjadikan fondasi tersebut siap menopang bangunan rumah untuk tegak berdiri. Pertanyaannya adalah apakah kurikulum negeri ini menganut konsep sedemikian ? apakah kurikulum yang selama ini dijalankan dengan segala bentuk UU memberikan fondasi yang  kuat demi menjalankan pendidikan yang berkualitas dan baik ? apakah fondasi dalam kurikulum negeri ini memang dipola dengan sedemikian amburadul sehingga melahirkan output pendidikan yang sangat buruk ? apakah kurikulum sebelum dilaksanakan secara praktik telah diperkuat dengan perangkat luar biasa supaya proses pendidikan yang dijalankan nantinya bisa optimal ?

Yang jelas, kurikulum akan menjadi mumpuni dan kokoh apabila menyerupai fondasi rumah. Mengandung nilai-nilai sangat mendasar dan potensial bagi keberhasilan pendidikan yang diharapkan bersama. Menurut Oemar Hamalik, ada enam faktor yang harus dijadikan landasan utama. Pertama, tujuan filosofis dan pendidikan nasional merupakan piranti utama yang harus dipertegas penjabarannya.

Kedua, sosial budaya dan agama yang hidup di tengah masyarakat harus dimasukkan dalam nilai kurikulum sebagai bagian dari penanaman nilai-nilai keribadian diri. Ketiga, perkembangan peserta didik harus dipertimbangkan. Keempat, keadaan lingkungan baik interpersonal, kultural, biekologi, dan geoekologis jangan sampai ditinggalkan, sebab mempengaruhi pembentukan pendidikan terhadap peserta didik.

      Kelima, kebutuhan pembangunan dalam daerah tertentu harus diperhatikan, sebab pendidikan bersinergi dengan realitas potensial yang sedang dikembangkan dan dibutuhkan demi kemajuan sebuah daerah tertentu. Keenam, perkembangan global mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi harusbisa diserap dan dimasukkan dalam kurikulum supaya pendidikan yang ditanamkan terhadap peserta didik selalu berwawasan global. Ibaratnya, merek kemudian tidak seperti katak dalam tempurung. Mereka mampu melihat ke depan bagaimana pendidikan di lintas bangsa selalu mengalami perkembangan dan kemajuan pesat. Selalu muncul dinamika yang luar biasa yang kemudian menimbulkan proses perubahan secara terus menerus.

      Lebih lanjut, Oemar Hamalik menggambarkan, supaya kurikulum mampu menjadi sebuah fondasi dengan paradigma mencerahkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai berikut ;

  1. Tujuan kurikulum

Tujuan kurikulum berdasarkan setiap satuan pendidikan harus diperhatikan secara cermat. Ini menentukan arah sebuah implementasi pendidikan.

  1. Materi kurikulum

Sejatinya, materi kurikulum adalah isi dari kurikulum. Oleh karenanya, materi tersebut harus mencerminkan bahan ajar yang membangun ruang pencerahan.

  1. Metode

Metode merupakan cara yang digunakan dalam menyampaikan materi pelajaran. Metode dalam konteks tersebut memiliki pesan strategis dan penting dalam keberhasilan sebuah pendidikan yang termuat dalam kurikulum.

  1. Organisasi kurikulum

Organisasi kurikulum yang dimaksudkan adalah konsep kurikulum berdasarkan beberapa kebutuhan masing-masing.

  1. Mata pelajaran terpisah

Kurikulum ini merupakan mata pelajaran terpisah, seperti sejarah, ilmu pasti, bahasa Indonesia, dan sebagainya. Disebut terpisah sebab diajarkan seara tersendiri, tanpa mempunyai relasi denan mata pelajaran lain. Lebih tepatnya, pengajaran tersebut tidak mendasarkan diri pada pertimbangan kebutuhan dan kemampuan peserta didik.

  1. Mata pelajaran berkolerasi

Ini ditujukan agar pendidikan yang dijalankan mampu membangun pandangan hidup peserta didik yang linier. Dengan kata lain, mempelajari sejarah dan ilmu bumi memiliki kaitan isi kendatipun berbeda dalam waktu pengajaran.

  1. Bidang studi

Ini dimaksudkan supaya materi ajar yang sekelompok dan mempunyai kaitan ciri-ciri dapat dihubungkan sedemikian rupa, seperti bidang studi bahasa mencakup membaca, bercerita, mengarang, bercakap — cakap, dan lain sebagainya.

  1. Program yang berpusat pada anak

Program ini merupakan terobosan baru supaya anak didik dapat menjadi pusat pembelajaran, sedangkan pendidik hanya sebagai fasilitator. Pendidik menyiapkan segala bahan yang diperlukan supaya anak didik mendapat pengetahuan dari aktivitas yang dikerjakannya sebut saja cerita dan lain sebagainya.

  1. Core program

Ini merupakan program pembelajaran yang berupaya memecahkan sebuah persoalan tertentu. Proses pengajarannya melalui kegiatan belajar yang menekankan pada pemecahan masalah. Dalam program tersebut, pengalaman-pengalaman yang disarankan sudah diberikan sehingga pendidik dan anak didik hanya memilih mana yang tepat untuk digunakan dalam rangka merencanakan dan mengembangan suatu unit kerja yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kebutuhan anak didik.

10. Elektik program

Program demikian merupakan program yang berupaya menemukan titik keseimbangan antara organisasi kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran dan peserta didik. Memilih unsur paling baik di antara berbagai mata pelajaran tersebut kemudian digabungkan dalam satu program adalah rumus yang tepat untuk menjalankan elektik program. Ini menjadi sebangun dengan minat, kebutuhan, dan kematangan peserta didik. Ruang lingkup dan urutannya sudah ditentukan sebelumnya. Pendidik dan peserta didik hanya merinci kembali. Dengan begitu, ini menghasilkan alokasi waktu yang proporsional, baik untuk mengajar keterampilan dan unit kerja. Distribusi waktu disinergikan dengan kegiatan guna mencapai tujuan. Lebih menarik lagi, program ini memberikan peluang bagi peserta didik untuk menjadi kreatif dem pengembangan apresiasi dan pemahaman.

11. Evaluasi

Evaluasi merupakan komponen yang cukup menjadi harapan terakhir mengenai seberapa besar hasil pendidikan atau prestasi yang dicapai oleh peserta didik. Dalam konteks ini, evaluasi sangat dominan untuk mengukur sebuah keberhasilan pendidikan atau prestasi pendidikan sehingga bisa ditemukan titik kesulitan, kemudahan, dan hambatan yang dialami peserta didik.

Tentu, pemberian evaluasi memilii titik tolak yang berlainan, sesuai dengan tujuan dilakukannya penilaian tersebut. Penilaian formatif dimaksudkan untuk mengetahui kemajuan siswa dan dalam upaya melakukan perbaikan yang dibutuhkan. Sedangkan penilaian sumatif bermaksud untuk menilai kemampuan siswa setelah satu semester atau dalam periode tertentu guna mengetahui perkembangan peserta didik secara holistik. Oleh karenanya, supaya evaluasi bisa berhasil maka instrumen yang digunakan harus mengandung valid, riel, objektif, praktis, dan berbeda.

Mencermati paparan tersebut maka menjadi sangat jelas bahwa kurikulum merupakan bahan utama dalam melahirkan kualitas pendidikan yang baik. Kurikulum mendapatkan posisi guna membawa proses pendidikan yang mampu memberikan arah jelas dan baku ke depannya. Bila pendidikan Indonesia harus diselaraskan dengan tujuan pendidikan nasional, kurikulum sedemikian cukup cerdas memberikan titik berangkat yang sangat kokoh.

  1. D.  Model-Model Pengembangan Kurikulum

Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum.  Pemilihan suatu model kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta konsep pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentralisasi. Model pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subjek akademis berbeda dengan kurikulum humanistik, teknologis dan rekonstruksi sosial.

Sekurang kurangnya dikenal delapan model pengembangan kurikulum, yaitu : the administrative (line staf) model, the grass root model, Beauchamp’s system, the demonstration model, Taba’s inverted model, Roger’s interpersonal relations model, the systematic action research model and emerging technical model.

  1. 1.    The administrative model

            Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama model administraf atau line staff karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, administrator pendidikan (apakah dirjen, direktur atau kepala kantor wilayah pendidikan dan kebudayaan) membentuk suatu komisi atau tim pengarah pengembangan kurikulum. Anggota-anggota komisi atau tim ini terdiri atas, pejabat dibawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugas tim komisi ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan, dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Setelah hal-hal yang mendasar ini terumuskan dan mendapatkan pengkajian yang saksama, administrator pendidikan menyusun tim atau komisi kerja pengembangan kurikulum. Para anggota tim atau komisi ini terdiri atas para ahli pendidikan/kurikulum, ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi, guru-guru bidang stud yang senior. Tim kerja pengembangan kurikulum bertugas menyusun kurikulum yang sesungguhnya yang lebih operasional, dijabarkan dari konsep-konsep dan kebijaksanaan dasar yang telah digariskan oleh tim pengarah. Tugas tim kerja ini merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan-tujuan yang lebih umum, memilih dan menyusun sekuens bahan pelajaran, memilih strategi pengajaran dan evaluasi, serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum tersebut bagi guru-guru.

Setelah semua tugas dari tim kerja pengembangan kurikululm tersebut selesai, hasilnya dikaji ulang oleh tim pengarah serta para ahli lain yang berwenang atau pejabat yang kompeten. Setelah mendapat beberapa penyempurnaan, dan dinilai telah cukup baik, administrator pemberi tugas menetapkan berlakunya kurikulum tersebut serta memerintahkan sekolah-sekolah untuk melaksanakan kurikululm tersebut. Karena sifatnya yang datang dari atas, “top down” atau ”line staff”. Pengembangan kurikulum dari atas, tidak selalu segera berjalan, sebab menuntut kesiapan dari pelaksananya, terutama guru-guru. Mereka perlu mendapatkan petunjuk-petunjuk dan penjelasan atau mungkin juga peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Kebutuhan akan adanya penataran sering tidak dapat dihindarkan.

Dalam pelaksanaan kurikululm tersebut, selama bertahun-tahun permulaan diperlukan pula adanya kegiatan monitoring, pengamatan dan pengawasan serta bimbingan dalam pelaksanannya. Setelah berjalan beberapa saat perlu juga dilakukan suatu evaluasi, untuk menilai baik validitas komponen-komponennya, prosedur pelaksanaan maupun keberasilannya. Penilaian menyeluruh dapat dilakukan oleh tim khusus dari tingkat pusat atau daerah, sedang penilaian persekolahan dapat dapat dilakukan oleh tim khusus sekolah yang bersangkutan. Hasil penilaian tersebut merupakan umpan balik, baik bagi instansi pendidikan di tingkat pusat, daerah, maupun sekolah.

  1. 2.     The grass roots model

Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Model pengembangan kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass on the roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots seorang guru, sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum. Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. Apabila kondisinya telah memungkinkan, baik dilihat dari kemampuan guru-guru, fasilitas, biaya maupun bahan-bahan kepustakaan, pengembangan kurikulum model grass roots, akan lebih baik. Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya. Dialah yang paling tahu kebutuhan kelasnya, oleh karena itu dialah yang paling kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya. Hal itu sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh Smith, Stanley dan Shores ;

a)    The curriculum will improve only as the professional competence of teachers improves.

b)    The competence of teachers will be improved only as the teachers come involved personally in problems of cirrriculum revision.

c)    If teacher share in dhaping the goals to be attained, in selecting, definine, and solingthe problem to be encountered, and in judging and evaluating the results, their involvement will be most nearly assured.

d)    As people meet in face-to-face groups, they will be able to understand one another better and reach a consensus on basic principles, goals, and plans

Pengembangan kurikulum yang bersifat grass root, mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah lain, atau keseluruhan bidang studi pada sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikululm yang bersifat desentralisasi dengan model grass root-nya, memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.

  1. 3.    Beauchamp’s system

            Model pengembangan kurikulum ini, dikembangkan oleh Beauchamp seorang ahli kurikulum. Beauchamp mengemukakan lima hal di dalam pengembangan suatu kurikulum.

Pertama, menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan dicangkup oleh kurikulum tersebut, apakah suatu sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi ataupun seluruh negara. Penetapan arena ini ditentuan oleh wewenang yang dimilik oleh pengambil kebijaksanaan dalam pengembangan kurikululm, serta oleh tujuan pengembangan kurikulum. Walaupun daerah yang menjadi wewenang kepala kanwil pendidikan dan kebudayaan mencakup suatu wilayah propinsi, tetapi arena pengembangan kurikulum hanya mencakup satu daerah kabupaten saja sebagai pilot proyek.

Kedua, menetapkan personalia, yaitu siapa-siapa yang turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum. Ada empat kategori yang turut berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum, yaitu : (1) para ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan para ahli bidang dari luar, (2) para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih, (3) pada profesional dalam sistem pendidikan, (4) profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat.

Beauchamp mencoba melibatkan para ahli dan tokoh-tokoh pendidikan seluas mungkin, yang biasanya pengaruh mereka kurang langsung terhadap pengembangan kurikulum, dbanding dengan tokoh-tokoh lain seperti, para penulis dan penerbit buku, para pejabat pemerintah, politikus, dan pengusaha serta indutriawan. Penetapan personalia ini sudah tentu disesuaikan dengan tingkat dan luas wilayah arena. Untuk tingkat propinsi atau nasional tidak terlalu banyak melibatkan guru. Sebaliknya untuk tingkat kabupaten, kecamatan atau sekolah keterlibatan guru-guru sangat besar. Mengenai keterlibatan kelompo-kelompok personalia ini, Beauchamp mengemukakan tiga pertanyaan : (1) haruskah kelompok ahli/pejabat/profesi tersebut dilibatkan dalam pengembangan kurikulum ?, (2) Bila ya, apakah peranan mereka ?, (3) Apakkah mungkin ditemukan alat dan cara yang paling efektif untuk menjelaskan peran tersebut ?

Ketiga, organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Langkah ini berkenaan dengan prosedur yang arus ditempuh dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan yang lebih khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi, dan dalam menentukan keseluruhan desain kurikulum. Beauchamp membagi keseluruhan kegiatan ini dalam lima langkah, yaitu ; (1) membentuk tim pengembangan kurikulum, (2) mengadakan penilaian atau penelitian terhadap kurikulum yang ada yang sedang digunakan, (3) studi pengajaran tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru, (4) merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru, (5) penyusunan dan penulisan kurikulum baru.

Keempat, implementasi kurikulum. Langkah ini merupakan langkah mengimplementasikan atau melaksanakan kurikulum yang bukan sesuatu yang sederhana, sebab membutuhkan kesiapan yang menyeluruh, baik kesiapan guru-guru, siswa, fasilitas, bahan maupun biaya, disamping kesiapan manajerial dari pimpinan sekolah atau penulisan kurikulum.

Langkah yang kelima dan merupakan langkah terakhir adalah evaluasi kurikulum. Langkah ini minimal mencakup empat hal, yaitu evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru, evaluasi desain kurikulum, evaluasi hasil belajar siswa, evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum. Data yang diperoleh dari hasil kegiatan evaluasi ini digunakan bagi penyempurnaan sistem dan desain kurikulum, serta prinsip-prinsip melaksanakannya.

           

  1. 4.    The demosntration model

Model demonstrasi pada dasarnya bersifat grass roots, datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru ekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil, hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum. Karena sifatnya ingin mengubah atau mengganti kurikulum yang ada, pengembangan kurikulum sering mendapat tantangan dari pihak-pihak tertentu.

Menurut Smith, Stanlet, dan Shores ada dua variasi model demonstrasi ini. Pertama, sekelompok guru dari sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk untuk melaksanakan suatu percobaan tentang pengembangan kurikulum. Proyek ini bertujuan mengadakan penelitian dan pengembangan tentang salah satu atau beberapa segi/komponen kurikulum. Hasil penelitian dan pengembangan ini diharapkan dapat digunakan bagi lingkungan yang lebih luas. Kegiatan ini biasanya diprakarsai dan diorganisasi oleh instansi pendidikan yang berwenang seperti, direktorat pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kantor wilayah pendidikan dan kebudayaan, dan sebagainya.

Bentuk yang kedua, kurang bersifat formal. Beberapa orang guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada, mencoba mengadakan penelitian dan pengembangan sendiri. mereka menggunakan hal-hal lain yang berbeda dengan yang berlaku. Dengan kegiatan ini mereka mengaharapkan ditemukan kurikulum atau aspek tertentu dari kurikulum yang lebih baik, untuk kemudian digunakan di daerah yang lebih luas.

Ada beberapa kebaikan dari pengembangan kurikulum model ini. Pertama, karena kurikulum disusun dan dilaksanakan dalam situasi tertentu yang nyata, maka akan dihasilkan suatu kurikulum atau aspek tertentu dari kurikulum yang lebih praktis. Kedua, perubahan atau penyempurnaan kurikulum dalam skala kecil atau aspek tertentu yang khusus, sedikit sekali untuk ditolak oleh administator, dibandingkan dengan perubahan dan penyempurnaan yang menyeluruh. Ketiga, pengembangan kurikulum dengan skala kecil dengan model ini dapat menembus hambatan yang sering dialami yaitu dokumentasinya bagus tetapi pelaksanaannya tidak ada. Keempat, model ini sifatnya yang grass root menempatkan guru sebagai pengambil inisiatif dan nara sumber yang dapat menjadi pendorong bagi para administrator untuk mengembangkan program baru. Kelemahan model ini, adalah bagi guru-guru yang tidak ikut berpartisipasi mereka akan menerimanya dengan enggan-enggan, dalam keadaan terburuk mungkin akan terjadi apatisme.

  1. 5.    Taba’s innverted model

            Menurut cara bersifat tradisional pengembangan kurikulum dilakukan secara deduktif, dengan urutan :

a)    Penentuan prinsip-prinsip dan kebijaksanaan dasar

b)    Merumuskan desain kurikulum yang bersifat menyeluruh didasarkan atas komitmen-komitmen tertentu

c)    Menyusun unit-unit kurikulum sejalan dengan desain yang menyeluruh

d)    Melaksanakan kurikulum di dalam kelas

Taba berpendapat model deduktif ini kurang cocok, sebab tidak merancang timbulnya inovasi-inovasi. Menurutnya pengembangan kurikulum yang lebih mendorong inovasi dan kreativitas guru-guru adalah yang bersifat induktif, yang merupakan inversi atau arah terbalik dari model tradisional.

Ada lima langkah pengembangan kurikulum model Taba ini. Pertama, mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru. Didalam unit eksperimen ini diadakan studi saksama tentang hubungan antara teori dengan praktik. Perencanaan didasarkan atas teori yang kuat, dan pelaksanaan eksperimen di dalam kelas menghasilkan data-data yang menguji landasan teori yang digunakan. Ada delapan langkah dalam kegiatan unit eksperimen ini ;

a)    Mendiagnosis kebutuhan

b)    Merumuskan tujuan-tujuan khusus

c)    Memilih isi

d)    Mengorganisasikan isi

e)    Memilih pengalaman belajar

f)     Mengevaluasi

g)    Melihat sekuens dan keseimbangan

Langkah kedua, menguji unit eksperimen. Meskipun unit eksperimen ini telah diuji dalam pelaksanaan di kelas eksperimen, tetapi masih harus diuji di kelas-kelas atau tempat lain untuk mengetahuhi validitas dan kepraktisannya, serta menghimpun data bagi penyempurnaan.

Langkah ketiga, mengadakan revisi dan konsolidasi. Dari langkah pengujian diperoleh beberapa data, data tersebut digunakan untuk mengadakan perbaikan dan penyempurnaan. Selain perbaikan dan penyempurnaan diadakan juga kegiatan konsolidasi, yaitu penarikan kesimpulan tentang hal-hal yang bersifat umum yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas. Hal itu dilakukan, sebab meskipun suatu unit eksperimen telah cukup valid dan praktis pada sesuatu sekolah belum tentu demikian juga pada sekolah yang lainnya. Untuk menguji keberlakuannya pada daerah yang lebih luas perlu adanya kegiatan konsolidasi.

Langkah keempat, pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum. Apabila dalam kegiatan penyempurnaan dan konsolidasi telah diperoleh sifatnya yang lebih menyeluruh atau berlaku lebih luas, hal itu masih harus dikaji oleh para ahli kurikulum dan para profesional kurikululm lainnya. Kegiatan itu dilakukan untuk mengetahui apakah konsep-konsep dasar atau landasan-landasan teori yang dipakai sudah masuk akal dan sesuai.

Landasan kelima, implementasi dan dideminasi, yaitu menerapkan kurikulum baru ini pada daerah atau sekolah-sekolah yang lebih luas. Di dalam langkah ini masalah dan kesulitan-kesulitan pelaksanaan tetapi dihadapi, baik berkenaan dengan kesiapan guru-guru, fasilitas, alat dan bahan juga biaya.

  1. 6.    Roger’s interpersonal relation model

            Meskipun Roger bukan seorang ahli pendidikan tetapi konsep-konsepnya tentang psikoterapi khususnya bagaimana membimbing individu juga dapat diterapkan dalam bidang pendidikan dan pengembangan kurikulum. Memang ia banyak mengemukakan konsepnya tentang perkembangan dan perubahan individu.

Menurut Roger manusia berada dalam proses perubahan (becoming, developing, changing), sesungguhnya ia mempunyai kekuatan dan potensi untuk berkembang sendiri, tetapi karena ada hambatan-hambaan tertentu ia membutuhkan orang lain untuk membantu memperlancar dan mempercepat perubahan tersebut. Guru serta pendidik lainnya bukan pemberi informasi apalagi penentu perkembangan anak, mereka hanyalah pendorong dan pemelancar perkembangan anak.

Ada empat langkah pengembangan kurikulum model Roger. Pertama, pemilihan target dari sistem pendidikan. Di dalam penentuan target ini satu-satunya kriteria yang menjadi pegangan adalah adanya kesediaan dari pejabat pendidikan untuk turut serta dalam kegiatan kelompok yang intensif. Selama satu minggu para pejabat pendidikan/administrator melakukan kegiatan kelompok dalam suasana yang relaks, tidak formal. Melalui kegiatan kelompok ini mereka akan mengalami perubahan-perubahan sebagai berikut

a)    He is less protective of his own beliefs and can listen moro accuratelyy

b)    He finds it easier and less threatening to accept innovative ideas

c)    He has less need to protect bureaucratic rules

d)    He cummunicates more clearly and realistically to superior, peers, and sub-ordinates because he is more open and less self-protective

e)    He is more person oriented and demicratic

f)     He openly confronts personal emotional frictions between him self and colleagues

g)    He is more able to accept both positive and negatie feedback and use it constructively

Langkah kedua dalam pengembangan kurikulum model Roger adalah partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif. Sama seperti yang dilakukan para pejaba pendidikan, guru juga turut serta dalam kegiatan kelompok. Keikutsertaan guru dalam kelompok tersebut sebaiknya bersifat suka rela, lama kegiatan kalau bisa satu minggu lebih baik, tetapi dapat juga kurang dari satu minggu. Efek yang akan ditermia guru sejalan dengan para administrator, dengan beberapa tambahan.

a)    He is more able to listen to students

b)    He accepts innovative, troublesome ideas from stundets, rather than insisting on conformity

c)    He pays as much attention to his relationships with students as he does to course content

d)    He work out problem with students rather than responding in a disciplinary and punitive manner

e)    He develops an aqualitarian and democratic classroom climate

Langkah ketiga, pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran. Selama lima hari penuh siswa ikut serta dalam kegiatan kelompok, dengan fasilitator para guru atau administrator atau fasilitator dari luar. Dari kegiatan ini para siswa akan mendapatkan :

a)    He feels freer to express both postve and negatie feelings in class

b)    He works through these feelings toward a realistic solution

c)    He has more energy for learning because he has less fear of constant evaluation and punishment

d)    He discovers that he is responsible for his own learning

e)    He awe and fear of authority diminish as he finds teachers and administrators to be fallible human beings

f)     He finds that the learning process enables him to deal with his life

Langkah keempat, partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok. kegiatan ini dapat dikoordinasi oleh BP3 masing-masing sekolah. Lama kegiatan kelompok ini dapat tiga jam tiap sore hari selama seminggu atau 24 jam secara terus menerus. Kegiatan ini bertujuan memperkaya orang-orang dalam hubungannya dengan sesama orang tua, dengan anak, dan denga guru. Roger juga menyarankan, kalau mungkin ada pengalaman kegiatan sekelompok yang bersifat campuran. Kegiatan merupakan kulminasi dari semua kegiatan kelompok diatas.

Model pengembangan kurikulum dari Roger ini berbeda dengan model-model lainnya. Sepertinya tidak ada suatu perencanaan kurikulum tertulis, yang ada hanyalah rangkaian kegiatan kelompok. itulah ciri khas Carl Rogers sebagai seorang Eksistensialis Humanis, ia tidak mementingkan formalitas, rancangan tertulis, data, dan sebagainya. Bagi Roger yang penting adalah aktivitas dan interaksi. Berkat berbagai bentuk aktivitas dalam interaksi ini individu akan berubah. Metode pendidikan yang diutamakan Roger adalah sensitivity training, ecounter group, dan  Training Group (T Group).

  1. 7.    The systematic action-research model

            Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial. Hal itu mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian orang tua, siswa guru, struktur sistem sekolah, pola hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah dan masyarakat. Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada tiga hal itu : hubungan insani, sekolah dan organisasi masyarakat, serta wibawa dari pengetahuan profesional.

Kurikulum dikembangkan dalam konteks harapan warga masyarakat, para orang tua, tokoh masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur action research.

Langkah pertama, mengadakan kajian secara saksama tentang masalah-masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yang bersifat menyeluruh, dan mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan dan kondisi yang mempengaruhi masalah tersebut. Dari hasil kajian tersebut dapat disusun rencana yang menyeluruh tentang cara-cara mengatasi masalah tersebut, serta tindakan pertama yang harus diambil.

Kedua, implementasi dari keputusan yang diambil dalam tindakan pertama. Tindakan ini segera diikuti oleh kegiatan pengumpulan data dan fakta-fakta. Kegiatan pengumpulan data ini mempunyai beberapa fungsi : menyiapkan data bagi evaluasi tindakan, sebgai bahan pemahaman tentang masalah yang dihadapi, sebagai bahan untuk menilai kembalidan mengadakan modifikasi, sebagai bahan untuk menentukan tindakan lebih lanjut.

 

  1. 8.    Emerging technical models

Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efisiensi efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum. Tumbuh kecenderungan-kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu, diantaranya : The behavioal Analysis Model, The system analysis model, The computer based model.

The behavioal Analysis Model, menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan. Suatu perilaku atau kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi perilaku-perilaku yang sederhana yang tersusun secara hirarki. Siswa mempelajari perilak-perilaku tersebut secara berangsur-angsur mulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks.

            The system analysis model berasal dari gerakan efisiensi bisnis. Langkah pertama dari model ini adalah menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dkuasai siswa. Langkah kedua adalah menyusun instrumen untuk menilai ketercapaian hasil-hasil belajar tersebut. Langkah ketiga, mengidentifi- kasi tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang diperlukan. Langkah keempat, membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan.

            The computer based model, suatu model pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer. Pengembangannya dimulai dengan mengiden- tifikasi seluruh unit-unit kurikulum, tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang hasil-hasil yang diharapkan. Kepada para siswa dan guru-guru diminta untuk melengkapi pertanyaan dengan unit-unit kurikulum tersebut. Setelah diadakan pengolahan disesuaikan dengan kemampuan dan hasil-hasil belajar yang dicapai siswa disimpan dalam komputer.

BAB III

KESIMPULAN

            Tulisan ini menajikan suatu kerangka kerja dasar yang bersifat konseptual tentang perencanaan kurikulum dan penggunaan model pengembangan kurikulum. Kerangka kerja ini dapat digunakan oleh para instruktur, guru dan calon guru untuk memahami, menganalisis dan mengapllikasikannya dalam proses pembuatan kurikulum yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

kurikulum menjadi pemandu yang bisa memberikan arahan-arahan fleksibel dan lentur. Memberikan nuansa kemerdekaan hidup bagi anak didik untuk melakukan aktualisasi diri sedemikian rupa.

Kurikulum harus menampung segala potensi dan bakat anak didik yang bisa diaktualisasikan secara konkret dan praktis. Perkembangan kurikulum bisa membuka peluang-peluang baru bagi proses pendidikan yang lebih hebat dan dinamis.

Beberapa hal yang penting dijalankan untuk melahirkan kurikulum yang bermutu adalah :

  1. Menyusun pokok-pokok bahasan bidang studi yang secara potensial dapat dijadikan objek belajar yang relevan untuk mencapai tujuan.
  2. Memilih pokok bahasan bidang studi yang paling relevan sebagai objek belajar guna mencapai tujuan kurikulum yang telah ditetapkan.
  3. Menyusun deskripsi setiap pokok bahasan yang telah dipilih sehingga jelas.
  4. Mengurutkan pokok-pokok bahasan secara logis dan psikologis agar dapat dipertanggungjawabkan.

DAFTAR PUSTAKA

 

Sukmadinata, Nana Syaodih (1997). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ahmad, M. (2008).  Pengembangan Kurikulum. Tanggerang: PT Bintang Harapan Sejahtera

Originally posted on Dita Rosmaya:

……….

Mata Kuliah : Manajemen Pemasaran Jasa Pendidikan

Dosen : Dr. Amril Muhammad, S.E., M.Pd.

Sudah ketiga kalinya saya mengikuti perkuliahan Manajemen Pemasaran Jasa. hasil dari perkuliahan pertama adalah perjanjian atau kontrak selama mengikuti perkuliahan Manajemen Pemasaran Jasa. Pertemuan kedua menghasilkan tentang pengertian, konsep pemasaran dan jasa serta faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya pemasaran.

Pertemuan ketiga, 25 Februari 2013 bertempat di ruang kelas 307 Daksinapati, FIP UNJ pada pukul 09.30. Proses perkuliahan telah terlaksana dengan sangat baik. Selama pembelajaran berlangsung tidak ada satupun kegiatan yang mengganggu proses pembelajaran. Sarana dan prasarana yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan baik.

Materi pembahasan minggu ini adalah Analisis Pemasaran Jasa. Sebelum jasa itu ditawarkan pada pembeli, kita sebagai perusahaan harus tahu target pasar atau lingkungan pembeli yang diinginkan seperti apa kemudian kita analisis kebutuhan dan keinginan dari segmen pasar tersebut barulah kita menjual produk yang kita hasilkan.

Analisis pemasaran jasa terbagi menjadi dua yaitu microenvironment dan…

View original 422 more words

Makalah Matkul Pengantar Manajemen Pendidikan

  Sistem Informasi Manajemen

Mata kuliah : Pengantar Manajemen Pendidikan

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Aulya Novianty (1445110616)

Dita Rosmaya (1445110638)

 

 

Manajemen Pendidikan

Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Jakarta

KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami telah menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Tujuan utama penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Manajemen Pendidika, yaitu pembuatan makalah mengenai Sistem informasi Manajemen Pendidikan.

Meskipun penulis telah berusaha dengan segenap kemampuan, kami menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, segala  kritik dan saran yang diberikan akan kami sambut dengan kelapangan hati guna perbaikan pada masa yang akan datang.

Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi para pembacanya.

Desember, 2011

Penulis

Daftar Isi

 

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar belakang ……………………………………………………………………………………..  1

1.2 Tujuan …………………………………………………………………………………………………  1

1.3 Manfaat………………………………………………………………………………………………. 1

Bab II Pembahasan

2.1 Konsep Dasar Sistem Informasi Manajemen Pendidikan…………………………… 2

2.2 Unsur- Unsur Sistem Informasi Manajemen …………………………………………….  2

2.3 Pengertian Sistem Informasi Manajemen Pendidikan  ……………………………….  3

2.4 Manajemen pada Aspek Informasi ………………………………………………………….  5

2.5 Fungsi / Manfaat Sistem Informasi Manajemen ………………………………………..  6

2.6 Ruang Lingkup Sistem Informasi Manajemen Pendidikan …………………………  7

2.7 Komponen Sistem Informasi Pendidikan …………………………………………………  8

2.8 Sistem Informasi Pendidikan menuju sekolah efektif ………………………………..  10

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan ………………………………………………………………………………………….  11

3.2 Saran …………………………………………………………………………………………………..  11

Bab I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Era baru dalam dunia pendidikan, yaitu yang diperkenalkannya reformasi pendidikan yang berkaitan dengan sistem informasi yang dibutuhkan dalam pengembangan dunia pendidikan. Konsep ini memiliki nuansa bagaimana dunia pendidikan berusaha menggunakan perangkat komputer, yang dapat diaplikasikan sebagai sarana komunikasi untuk meningkatkan kinerja dunia pendidikan secara signifikan.

Informasi merupakan satu-satunya sumber yang dibutuhkan seorang pemimpin lembaga pendidikan. Informasi dapat diolah dari sumber lain yang dipengaruhi oleh organisasi yang sangat kompleks dan perangkat komputer yang dimiliki. Informasi dapat memperbaiki kinerja lembaga pendidikan, layaknya kinerja usaha lembaga bisnis.

1.2 Tujuan

          Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui pengertian Sistem Informasi dalam dunia pendidikan dan dapat mngetahui berbagai macam peranannya.

1.3 Manfaat

          Makalah ini diharapkan dapat berguna bagi para pembaca untuk mengetahui lebih jauh mengenai Sistem Informasi Manajemen khususnya di dunia pendidikan

 

 

 

Bab II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Sistem Informasi Manajemen Pendidikan

Mengingat lembaga pendidikan di Indonesia merupakan organisasi yang memiliki orientasi ganda (multiple oriented), yaitu organisasi yang berorientasi sosial dan orientasi bisnis. Orientasi sosial pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan bangsa, sedangkan orientasi pendidikan dalam mempertahankan eksistensi maupun operasionalnya harus memiliki dana yang cukup memadai.

Dengan demikian, lembaga pendidikan tersebut akan menghasilkan lulusan (outcomes) yang berkualitas. Gambaran sistem informasi pendidikan yang dibutuhkan di Indonesia idealnya adalah bagaimana para pengambil keputusan bidang pendidikan dapat dengan mudah mencari informasi sebagai bahan dalam proses pengambilan keputusan bidang pendidikan. Misalnya, berapa jumlah sumber daya manusia pendidikan yang dibutuhkan, jenis sekolah, tingkatan sekolah, pelaksanaan kurikulum, perkembangan lembaga pendidikan lokal, regional, nasional, bahkan internasional untuk dapat memperbaiki kinerja dunia pendidikan masa lalu, masa kini, maupun masa yang akan datang.

Sistem informasi yang akan diciptakan harus seimbang antara infrastruktur teknologi yang tersedia dengan kemampuan sumber daya manusianya, sehingga tidak terjadi ketimpangan yang sangat jauh, dan sistem informasi tidak dapat terwujud secara mendasar.

2.2 Unsur-unsur Sistem Informasi Manajemen

Jika dikaji secara seksama ternyata SIM ini terbentuk karena adanya unsur-unsur yang mendukungnya. Unsur-unsur SIM ini meliputi unsur sistem, unsur informasi, dan unsur manajemen. Sebelum membahas mengenai pengertian sistem informasi pendidikan secara utuh, sebelumnya akan dijelaskan pengertian sistem, informasi, dan pendidikan terlebih dahulu. Sistem adalah segala sesuatu yang terdiri dari objek-objek, unsur-unsur, atau komponen-komponen yang saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain, sehingga unsur-unsur tersebut merupakan satu kesatuan pemrosesan atau pengolahan yang tertentu[1]. Informasi sangat erat hubungannya dengan data. Informasi berasal dari data.

Data adalah hal, peristiwa atau kenyataan lainnya yang mengandung susuatu pengetahuan untuk dijadikan dasar guna penyusunan keterangan, pembuatan kesimpulan atau penetapan keputusan. Data adalah ibarat bahan mentah yang melalui  pengolahan tertentu lalu mejadi informasi, sedangkan Informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi si penerima dan mempunyai nilai yang nyata atau yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang akan datang[2].

Dalam sistem informasi Manajemen diartikan sebagai proses informasi yang selalu memerlukan penerapan fungsi-fungsi manajemen dari mulai perencanaan, pengumpulan data, pelaksanaan pengumpulan data, pengolahan, penyimpanan, samapai dengan penyebaran informasi[3]. Dengan demikian penerapan manajemen sebagai proses terhadap sistem informasi manajemen adalah penerapan fungsi-fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan yang dilakukan dalam setiap kegiatan informasi manajemen.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pendidikan adalah proses mengubah sikap dan perilaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan[4].

2.3 Pengertian Sistem Informasi Manajemen Pendidikan

Menurut Gordon B. Davis, 1995 bahwa sistem informasi manajemen pendidikan adalah sebuah sistem manusia dengan mesin yang terpadu untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen, dan proses pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi[5].

Menurut Komarudin, 1997, sistem informasi manajemen adalah suatu sitem informasi yang memungkinkan pimpinan organisasi mendapatkan informasi dengan kuantitas dan kualitas yang tepat untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan[6].

Dalam pendidikan manajemen dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa Sistem Informasi Manajemen Pendidikan adalah perpaduan antara sumber daya manusia dan aplikasi teknologi informasi untuk memilih, menyimpan, mengolah, dan mengambil kembali data dalam rangka mendukung proses pengambilan keputusan bidang pendidikan[7]. Sedangkan pengertian lain dari Sistem Informasi Manajemen Pendidikan adalah suatu sitem yang dirancang untuk menyediakan informasi guna mendukung pengambilan keputusan pada kegiatan manajemen dalam lembaga pendidikan.

SIM pendidikan saat ini baru sebatas wacana, diharapkan pada waktu yang tidak terlalu lama SIM Pendidikan ini tidak sebatas wacana, tetapi sudah mengarah ke aplikasi yang betul-betul menunjang kegiatan dunia pendidikan pada umumnya. Untuk menerapkan SIM Pendidikan yang terpadu dan memiliki kapabilitas dalam mendukung keberhasilan dunia pendidikan yang signifikan, diperlukan keseimbangan sumber daya yang tersedia antara ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dalam mengoperasikan teknologi informasi seperti computer dan ketersediaan dana untuk pengadaan perangkat computer yang sudah semakin canggih.

Hal-hal yang perlu mendapat perhatian dalam SIM adalah :

1. Perlu diidentifikasi jenis informasi yang dibutuhkan

2. Perlu ditentukan sumber data dan informasi yang dibutuhkan

3. Perlu ditentukan siapa yang membutuhkan informasi dan kapan

4. Perlu dikomunikasikan informasi itu secara tepat, terpercaya, kepada para pengguna

SIM dapat dikatakan efektif apabila:

1. Data atau informasi itu terdapat kesesuaian antara yang memerlukan dengan yang menyiapkan tepat waktu,

2. Pemberi data atau informasi dapat memahamai orang atau bagian yang membutuhkan data, seperti sikap dan emosinya,

3.  Informasi diberikan sesuai dengan situasi tempat diterimanya informasi atau data,

4. Bentuk informasi dapat diterima oleh yang memerlukan, dan

5. Data atau informasi diolah dengan mekanisme yang cepat dan tepat.

2.4   Manajemen Pada Aspek Informasi

Informasi berfungsi sebagai penghubung antara berbagai bagian organisasi sehingga bagian-bagian itu tidak terisolasi dengan bagian yang lain, melainkan tetap merupakan suatukesatuan dalam organisasi.

Informasi, data, fakta, atau opini dalam suatuorganisasi dapat berlangsung dari atas ke bawah atau sebaliknya dan dapat pula berlangsung horizontal.  Dan berita itu dapat berlangsung sewaktu-waktu dengan frekuensi tinggi atau rendah. Begitu pula bentuk berita itu dapat beraneka ragam, mulai dari informasi sampai dengan desas-desus, dan kadang-kadang dapat berbaur satu dengan yang lain pada masa-masa mendatang dengan jalan mengaktifkan pembangunan. Tetapi, berita yang diterima belum tentu cocok dengan kebutuhan, lagi pula belum tentu berita itu benar.

Untuk mengurangi kesulitan tersebut dibuatlah satu unit kerja dalam organisasi yang besar atau subunit kerja dalam organisasi yang kecil yang khusus menangani berita untuk keperluan-keperluan para manajer. Unit kerja itu diberi nama Sistem Informasi Manajemen (SIM).

Agar sistem infromasi manajemen dapat diimplementasikan dalam organisasi, perlu disediakan aspek-aspeknya,yaitu :

  1. Prangkat keras (hardware) adalah seluruh peralatan yang diperlukan untuk mengoperasikan suatu sistem komputer. Hardware ini merupakan perangkat keras yang dapat digunakan untuk mengumpulkan, memasukan, memproses, menyimpan, dan mengeluarkan hasil pengolahan data dalam bentuk informasi, seperti CPU, hadrdisk, printer, dll.
  1. Perangkat lunak (software) merupakan kumpulan dari program-program yang digunakan untuk menjalankan komputer, sedangkan program merupakan kumpulan dari perintah-perintah komputer yang tersusun secara sistematis, seperti program yang terdapat dikomputer (dos, windows).
  1. Tenaga ahli (brainware) merupakan bagian yang terpenting dari komponen SIM yang merupakan bagian dari sistem informasi. Komponen brainware ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan komponen lainya dalam suatu sistem informasi sebagai hasil dari perencanaan, analisis, perancangan dan strategi implementasi yang didasarkan pada komunikasi antara SDM yang terlibat dalam organisasi. Biasanya terdiri atas :
    1. Sistem analis dan desainer, melalui kerjasama dengan pemakai, membangun sistem baru dan memperbaiki sistem lama. Ia pakar dalam mendefinisikan masalah dan menyiapkan dokumentasi tertulis tentang cara komputer membantu pemecahan masalah.
    2. Programmer, bertugas melalui dokumen yang disiapkan sistem analis dan desainer untuk membuat instruktur-instruktur yangakan membuat komputer mengubah data menjadiinformasi yang diperlukan pemakai.
    3. Operator, bertugas mengoperasikan peralatan komputer.

2.5 Fungsi / Manfaat Sistem Informasi Manajemen

Agar Informasi yang dihasilkan oleh Sistem Informasi dapat berguna bagi manajemen, maka analisis sistem harus mengetahui kebutuhan-kebutuhan informasi yang dibutuhkan, yaitu dengan mengetahui kegiatan-kegiatan untuk masing-masing tingkat (level) manajemen dan tipe keputusan yang diambilnya. Sanga terlihat bahwa tujuan dibentuknya SIM adalah agar organisasi memiliki informasi yang bermanfaat dalam pembuatan keputusan manajemen, baik yang menyangkut keputusan-keputusan rutin, maupun keputusan yang strategis. Adapun fungsi / manfaat dari SIM adalah:

  1. Meningkatkan aksebilitas data yang tersaji secara tepat waktu dan akurat bagi para pemakai, tanpa mengharuskan adanya perantara Sistem Informasi,
  2. Menjamin tersedianya kualitas dan keterampilan dalam memanfaatkan Sistem Informasi secara kritis,
  3. Mengembangkan proses perencanaan yang efektif,
  4. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan akan keterampilan pendukung Sistem Informasi,
  5. Mengantisispasi dan memahami konsekuensi ekonomis dari Sistem Informasi dan teknologi baru, dan
  6. Memperbaiki produktivitas dalam aplikasi pengembangan dan pemeliharaan sistem.

2.6 Ruang Lingkup Sistem Informasi Manajemen Pendidikan

          Cakupan data yang ditangani SIM Pendidikan dapat diklasifikasikan atas data pendidikan dan data yang berhubungan dengan pendidikan. Data yang berhubungan dengan pendidikan ini berisi informasi mengenai populasi pekerjaan masyarakat, karateristik masyarakat, sosial ekonomi, dan budaya lainnya yang mempengaruhi pendidikan.

Sedangkan data pendidikan meliputi aktivitas pendidikan formal dan non formal, program-program tiap tingkatan dan tiap jenis pendidikan. Diantaranya adalah peserta didik, staff pengajar, fasilitas (sarana prasarana), kurikulum (isi, metode dan matericbelajar mengajar), dan pengembangan jasa lainnya.

Dalam dunia pendidikan, keberadaan Sistem Informasi merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas pendidikan itu sendiri. Kedua domain ini memiliki tingkat ketergantungan yang cukup tinggii dalam membentuk karateristik dunia pendidikan tersebut. Manajemen dalam menggambarkan hubungan kedua aspek tersebut dimana pendidikan sebagai penggerak (drive) terhadap Sistem Informasi Pendidikan, sedangkan Sistem Informasi Pendidikan akan menjadi penentu kinerja pendidikan. Lebih jauh lagi SIM ini dapat membantu para pengambil kebijakan bidang pendidikan dalam memutuskan strategi yang tepat untuk diterapkan dalam melakukan pengendalian dan monitoring terhadap komponen-komponen pendidikan.

Dalam dunia pendidikan, SIM dapat diimplementasikan dalam beberapa bidang pendidikan, yaitu:

1. Implementasi SIM bidang akademik : penyusunan program tahunan, pengaturan jadwal pelajaran, pengaturan pelaksanaan dan penyusunan model satuan pembelajaran, penentu kriteria kenaikan kelas, dan lain-lain.

2. Implementasi SIM bidang kesiswaan : mengatur pelaksanaan penerimaan siswa baru berdasarkan peraturan penerimaan siswa baru, mencatat kehadiran dan ketidakhadiran siswa

3. Implementasi SIM bidang personalia : mengatur pembagian tugas guru, mencatat kehadiran dan ketidakhadiran guru.

4. Implementasi SIM bidang sarana dan prasarana : penyediaan dan seleksi buku pegangan guru, penggunaan alat peraga.

2.7 Komponen Sistem Informasi Pendidikan

Sistem kerja komputer pada hakikatnya sinkron dengan proses berlangsungnya SIM secara umum maupun SIM Pendidikan yang meliputi kagiatan-kegiatan :

  1. 1.      Pengumpulan data (Input)

Untuk pengumpulan data ini, dapat dipergunakan beberapa metode, diantaranya:

  1. Melalui pengamatan secara langsung
  2. Melalui wawancara
  3. Melalui perkiraan koresponeden
  4. Melalui daftar pertanyaan
  1. 2.      Pengolahan data (Processing)
    1. Capturing, yaitu pencatatan data dari suatu peristiwa atau kejadian dalam suatu bentuk, yaitu berupa formulir-formulir.
    2. Verifying (pemeriksaan), yaitu pemeriksaan, pengecekan, atau pengesahan data untuk menjamin agar data tersebut dapat diperoleh dan dicatat secara cermat.
    3. Classifying (penggolongan), yaitu menempatkan unsur-unsur data dalam kategori khusus yang memberikan arti bagi si pemakai.
    4. Penyusunan atau penyortiran, yaitu menempatkan unsur-unsur data dalam suatu rangkaian urutan khusus atau rangkaian yang telah ditentukan sebelumnya.
    5. Summarizing (peringkasan), yaitu menggabungkan atau mengumpulkan unsur-unsur data secara matematik, kemudian dengan pengurangan secara logika.
    6. Calculating (perhitungan), yaitu penanganan data secara ilmu hitung dan atau logika
    7. Storing (penyimpanan), yaitu menempatkan data ke dalam suatu media penyimpanan seperti kertas, microfilm, dan sebagainya, dimana data dapat dipelihara untuk pemasukan dan pengambilan kembali apabila diperlukan (pengarsipan).
    8. Retreiving (pengambilan kembali), yaitu pencarian dan mendapatkan tambahan bagi unsur-unsur data khusus dari media dimana unsur-unsur data tersebut disimpan.
    9. Reproduksi, yaitu memperbanyak data dari satu media ke media yang lain atau dalam kedudukan yang lain dalam media yang sama.
    10. Disseminating – Communicating (penyebaran-pengkomunikasian), yaitu penyebaran dan pemindahan data dari satu tempat ke tempat lain.
  1. 3.      Penyimpanan data

Penyimpanan data termasuk di dalamnya pengarsipan. Tujuan penyimpanan atau pengarsipan ini adalah :

  • Mudah ditemukan apabila sewaktu-waktu diperlukan
  • Menjaga dan memelihara fisik arsip atau dokumen agar terlindung dari kemungkinan rusak, terbakar atau hilang.

 

 

  1. 4.      Penyajian informasi (Output)

Yang dimaksud dengan penyajian data atau informasi disini adalah memindahkan data atau informasi dari bagian Sistem Informasi Manajemen ke bagian yang memerlukan, terutama pada pembuatan kebijakan.  Data informasi yang dikeluarkan, disesuaikan dengan kebutuhan. Pengeluaran data ini adalah bukan hanya pengeluaran dari komputer atau dari alat-alat pengolahan data dan informasi, tetapi dari bagian pengolahan SIM/bank data dan informasi pada bagian lain atau pada pembuat kebijakan.

Dalam teori manajemen untuk menjalankan sebuah lembaga pendidikan, strategi lembaga pendidikan dan strategi sitem informasi harus saling mendukung, sehingga dapat menciptakan keunggulan bersaing lembaga pendidikan yang bersangkutan.

2.8 Sistem Informasi Pendidikan menuju sekolah efektif

Untuk dapat mewujudkan sekolah yang efektif, seluruh personil sekolah khususnya kepala sekolah sebagai pemimpin harus bisa menjalankan fungsi sekolah dengan efektif, sesuai dengan visi, misi, dan tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Salah satu fungsinya adalah pelayanan administrasi yang erat kaitannya dengan SIM pendidikan. Untuk dapat mengatur dan mengkoordinir pengelolaan data  mengenai ruang lingkup administrasi sekolah diperlukan suati SIM Pendidikan yang menyediakan informasi yang akurat, lengkap, cepat dan tepat. Hal ini sangat berperan besar dalam proses pengambilan keputusan yang nantinya akan dijadikan suatu kebijakan sekolah.

SIM Pendidikan dalam pelaksanaannya sangat membantu dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja para guru dan staff tata usaha dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-hari khususnya dalam melaksanakan aktivitas layanan data dan informasi administrasi sekolah dengan cara mengumpulkan, mengolah, menyimpan, menyebarkan dan memanfaatkan data dan informasi yang akurat, tepat waktu, relevan dan lengkap untuk pencapaian tujuan pendidikan yang efektif serta meningkatkan kualitas dan perbaikan status pendidikan.

Bab III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sistem Informasi Manajemen Pendidikan merupakan perpaduan antara SDM dan teknologi untuk memilih, menyimpan, mengolah dan mengambil kembali data dalam rangka mendukung proses pengambilan keputusan bidang pendidikan. Dengan adanya sistem informasi manajamenen pendidikan dapat memudahkan pemakai untuk menjamin kualitas informasi yang ada, mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan informasi, memudahkan pemakai untuk menyaring informasi yang diperlukan untuk pendidikan. Cangkupan data yang ditangani Sistem Informasi Manajemen Pendidikan yaitu data yang berhubungan dengan pendidikan, data pendidikan, implementasi bidang pendidikan. Sistem Informasi Manajemen mempunyai aspek-aspeknya yaitu perangkat lunak (software), perangkat keras (hardware), dan tenaga ahli (brainware).

3.2 Saran

Sistem Informasi Manajemen dapat membantu memudahkan pencarian informasi-informasi yang cepat, tepat, aktual dan tepat pemanfaatannya. Dengan adanya sistem informasi manajemen ini sangat menguntungkan untuk mengolah suatu informasi.

Jadi, bidang pendidikan memerlukan sistem informasi manajemen unutuk dapat memilah dan memilih informasi yang dibutuhkan bagi pendidikan itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Pidarta, Made. Manajemen Pendidikan Indonesia. Rineka Cipta. Jakarta : 2004.

Rochaety, Eti. Yanti, prima G. Sistem Informasi Manajemen Pendiidkan . PT Bumi Aksara. Jakarta : 2005

Tim Dosen Manajemen Admministrasi Pendidikan. Manajemen Pendidikan. Alfabeta. Bandung:2010

 Umar, Husein. Business an Introdustion. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta : 2000.

http://duniabaca.com/pengertian-dan-manfaat-sim-sistem-informasi-manajemen.html (diakses tanggal 7 Desember 2011)

http://www. Sainsalquran.com/2011/10/implementasi-sistem-informasi-manajemen.html (tanggal diakses 7 Desember 2011)


[1] Eti Rochaety, Sistem Informasi Manajemen (Jakarta : 2005), PT Bumi Aksara

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia (Jakarta : 2004), Rineka Cipta

[6] Ibid.

[7] Ibid.

Makalah Manajemen Pendidikan Dasar

Makalah

Manajemen Pendidikan Dasar

Mata Kuliah : Manajemen Pendidikan Nasional

Dosen :            Nurhatati Fuad, M.Pd

Disusun oleh :

Kelompok 2

Sarah Nisa Adillah                  1445110261

Dita Rosmaya                         1445110638

Kurniawan Ramadhan            14451106xx

Evi Wardhani                         1445097783

MANAJEMEN PENDIDIKAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Kata Pengantar

 

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran. Dalam makalah ini kami membahas tentang pengertian kurikulum dan segala aspek yang terkait di dalamnya.

Penyusun  mencoba memberikan suatu pemahaman yang berguna untuk pembaca. Serta mengembangkan minat untuk mempelajarinya. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, kami sangat menantikan tanggapan, kritik dan saran dari segenap pembaca.

Dengan demikian semoga makalah yang kami buat dapat berguna dan memenuhi kebutuhan bagi kita semua.

Jakarta, 15 Oktober 2012

Penyusun

Daftar Isi

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………………………….  i

Daftar Isi …………………………………………………………………………………………………………….  ii

Bab I : Pendahuluan

  1. Latar Belakang ………………………………………………………………………………………….  1
  2. Tujuan ………………………………………………………………………………………………………  1
  3. Manfaat Penulisan ……………………………………………………………………………………..  2

Bab II : Isi

  1. Pengertian dan Hakikat Pendidikan dasar …………………………………………………….  3
  2. Tujuan Pendidikan Dasar ……………………………………………………………………………  3
  3. Landasan Pendidikan dasar …………………………………………………………………………  5
  4. Pengelolaan Penyelenggaraan Pendidikan …………………………………………………….  9
  5. Pentingnya Pendidikan Dasar ……………………………………………………………………..  9
  6. Peraturan Terkait Penyelenggaraan Pendidikan Dasar …………………………………….  10
  7. Gambaran Umum Penyelenggaraan Pendidikan Dasar ……………………………………  11
  8. Kriteria Pendidik ……………………………………………………………………………………….  15

Bab III : Penutup :

  1. Kesimpulan ………………………………………………………………………………………….  16
  2. Saran …………………………………………………………………………………………………..  16

Daftar Pustaka …………………………………………………………………………………………………….  17

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. 1.      Latar Belakang

Sebagai suatu sistem, pendidikan nasional haruslah dikelola dengan tepat agar sebagai subsistem sebagai pembangunan nasional, tujuan sisdiknas seperti yang diminta dalam pasal Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 dapat tercapai secara efisien dan efektif.  Khususnya pada Pendidikan Dasar perlu mendapat perhatian khusus. Kurikulum yang ada sekarang bukan saja terlalu “overload”. Sebagai konsekuensi logis dari kurikulum yang sentralistik, juga karena proses penyusunan sampai pada pelaksanaan dan evaluasi kurikulum masih steril dari jamahan masyarakat.

Dalam rangka penyermpurnaan sistem pendidikan nasional sebagaimana diamanatkan oleh pasal 31 UUD 1945 pelaksanaan produk hukum tersebut masih harus diuji dilapangan dan sebagaimana biasanya dalam pelaksanaannya dihadapi kerikil-kerikil sebagai hambatan yang disebabkan oleh berbagai hal. Terlepas dari msalah yuridis, terdapat dua pola pemikiran atau asumsi yang mendiminasi kontroversi ini. Asumsi satu : mutu pendidikan akan dapat ditingkatkan apabila ditangani secara efisien artinya, berbagai sumber yang  mempengaruhi terjadinya proses pendidikan perlu ditangani secara jelas, terkendali, dan terarah. Kurikulum diarahkan dan diperinci, guru diarahkan dan ditugaskan, sarana dan dana pendidikan diprogramkan secara efisien asumsi ini dapat disebut asumsi pedagogik. Asumsi dua : pendidikan khususnya pendidikan dasar yang merupakan kebutuhan dasara dari setiap warga negara merupakan kewajiban pemerintah, dalam hal ini unit pemerintah yang paling depan, untuk melaksanakannya pendidikan menjadi salah satu masalah pembagian wewenang kekuasaan, antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam tulisan ini akan dibahas permasalahan manajemen pendidikan dasar karena alasan-alasan sebagai berikut :

  1. Pendidikan dasar merupakan proses HAM manusia Indonesia, sesuai dengan UUD 1945 pasal 31 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Oleh sebab itu, pelaksanaannya tidak dapat terhalang oleh peraturan perundangan yang dibawahnya.
  1. Masalah manajemen pendidikan, khususnya pendidikan dasar, bukan hanya sekedar masalah yuridis tetapi lebih dari itu karena berkenaan dengan anak Indonesia yang justru akan memperoleh pendidikannya yang sangat mendasar bagi kelangsungan hidup bernegara.
  1. 2.      Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah :

  1. Mengetahui tentang konsep dasar tujuan pendidikan Indonesia dan teori-teori yag berhubungan tentang manajemen pendidikan nasional
  2. Mahasiswa mampu menganalisis tentang kasus yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikanmahasiswa mampu memahami dasar hukum masalah yuridis terkait dengan manajemen pendidikan dasar
  3. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa khususnya dalam mata kuliah manajemen pendidikan nasional
  1. 3.      Manfaat

Melalui penulisan makalah ini diharapkan kita bisa lebih memahami bagaimana kegiatan penyusunan dan pengelolaan kurikulum apakah sudah sesuai dengan kenyataan, dan juga pembelajaran yang sesuai efektif, dalam pelaksanaannya. Sehingga kita bisa mengurangi kesalahan-kesalahan yang akan terjadi. Selain itu penulis juga berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya mahasiswa Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Melalui makalah ini diharapkan pembaca dapat lebih memperkaya ilmu tentang penyusunan kurikulum.

BAB II

ISI

 

  1. A.    PENGERTIAN PENDIDIKAN DASAR

Berdasarkan pasal 17 UU RI No. 20 tahun 2003 menerangkan bahwa:

1        Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan  yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

2        Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atsu bentuk lain yang sederajat.

3        Ketentuan mengenai pendidikan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Penjelasan atas pasal 17 ayat (2) menyatakan bahwa  “Pendidikan yang sederajat dengan SD/MI adalah program seperti Paket B yang diselenggarakan pada jalur pendidikan nonformal. Dalam UU No. 2 tahun 1989, Pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan  pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah.

Pengertian pendidikan dasar dalam UU 50 yang disebut dengan pendidikan rendah, definisinya sangat jelas, bahwa level ini adalah level untuk menumbuhkan minat, mengasah kemampuan pikir, olah tubuh dan naluri.

 

  1. B.     TUJUAN PENDIDIKAN DASAR

Tujuan tingkat pendidikan satuan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan pengetajuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Untuk mencapai tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dituntut peran guru dalam proses pembelajaran agar siswa memiliki keseimbanganantara kognitif, afektif dan psikomotorik.

Dengan adanya perkembangan teknologi yang pesat dan globalisasi yang semakin merambah ke desa-desa. Kondisi peserta didik yang belum bisa menyesuaikan dengan adanya perubahan-perubahan ini  menjadi penyebab terganggunya proses belajar mengajar. Peserta didik lebih banyak melihat permainan tekhnologi daripada belajar. Apalagi dari orang tua yang kurang memperhatikan karena bekerja sampai larut, dituntut kebutuhan yang semakin meningkat, serta ketidaktahuan orang tua dalam materi pembelajaran yang selalu berganti.

Peran guru dalam menyediakan dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna sangat di butuhkan peserta didik, guru yang dapat memberikan pembelajaran dengan berbagai cara agar peserta didik dapat memahami pembelajaran lebih lama akan meningkatkan hasil belajar siswa.

Tujuan pendidikan pada pendidikan dasar menurut PP Nomor 28 Tahun 1990, ialah[1] :

Memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggot umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.

Pendidikan dasar yang dimaksud disini ialah pendidikan yang berlangsung pada tingkat SD selama enam tahun dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama tiga tahun sehingga seluruhnya menjadi enam tahun. Pendidikan dasar sembilan tahun ini adalah pendidikan yang harus dimiliki oleh setiap wagar negara dalam kategori usia yang bersangkutan. Karena itu, pendidikan dasar merupakan indikator umum yang dapat digunakan untuk melihat tingkat kecerdasan bangsa. Kecuali untuk mempersiapkan peserta didik sebagai pribadi, wagar negara dan umat manusia, pendidikan dasar juga mempersiapkan mereka untuk meningkatkan kecerdasannya pada tingkat pendidikan menengah.

Terdapat beberapa kondisi yang diperlukan untuk suksesnya perencanaan pendidikan yaitu (1) adanya komitmen politik pada perencanaan pendidikan, (2) perencanaan pendidikan harus tahu betul apa yang menjadi hak, tugas dan kewajibannya, (3) harus ada perbedaan yang tegas, antara era politis, teknis, dan administratif pada perencanaan pendidikan, (4) perhatian lebih besar diberikan pada penyebaran kekuasaan untuk membuat keputusan pollitis dan teknis, (5) perhatian lebih besar diberikan pada pengembangan kebijakan dan prioritas pendidikan yang terarah, (6) tugas utama perencanaan pendidikan adalah mengembangkan secara terarah dan memberikan alterantif teknis sebagai sarana untuk mencapai tujuan politik pendidikan, (7) harus mengurangi politisasi pengetahuan, (8) harus berusaha lebih besar untuk mengetahui opini publik terhadap perkembangan masa depan dan arah pendidikan, (9) administrator pendidikan harus lebih aktif mendorong perubahan-perubahan dalam perencanaan pendidikan, dan (10) ketika pemerintah tidak menguasai lagi semua aspek pendidikan maka harus lebih diupayakan kerja sama yang saling menguntungkan antara pemerintah-swasta-universitas yang memegan otoritas pendidikan.

Selain itu terdapat dua strategi penting dalam perencanaan pendidikan, yaitu (1) penetapan target dan (2) penetapan prioritas. Menyangkut strategi kedua ini terdapat enam area kritis yang harus dipertimbangkan, yaitu pilihan antara tingkat pendidikan, pilahan antara kuantitas dan kulitas, pilihan antara ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pengetahuan budaya, pilihan antara pendidikan formal dan pelatihan nonformal, pilihan tentang intensif serta pilihan tentang tujuan pendidikan.

Memerhatikan pembuatan program oendidikan yang berkualitas, kondisi-kondisi yang mendukung suksesnya perencanaan pendidikan dan strategi-strategi penting dalam perencanaan pendidikan maka perlu disusun langkah-langkah perencanaan pendidikan. Langkah-langkah proses perencanaan pendidikan di Dekdiknas biasa disebut Siklus Perencanaan. Langkah-langkah tersebut adalah kegiatan analisis keadaan sekarang. Perkiraan keadaan yang akan datang, perumusan tujuan yang akan dicapai, analisis dan diagnosis, pengembangan alternatif, proses pengambilan keputusan, penentuan kebijakan, penentuan program dan prioritas, perhitungan anggaran, perumusan rencana, penyusunan rincian rencana, melaksanakan rencana, evaluasi rencana dan revisi rencana.

 

  1. C.    LANDASAN PENDIDIKAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DASAR

Pendidikan Sekolah dasar

Masa depan bangsa terletak dalam tangan generasi muda. Mutu bangsa di kemudian hari bergantung pada pendidikan yang dikecap oleh anak-anak sekarang, terutama melalui pendidikan formal yang  diterima di sekolah. Apa yang akan dicapai di sekolah, ditentukan oleh landasan dan kurikulum sekolah itu. Jadi barangsiapa yang memegang landasan yang benar dan menerjemahkan dalam kurikulum akan memegang nasib bangsa dan negara. Berikut saya uraikan landasan-landasan pendidikan.

  1. Yuridis

Landasan yuridis memberikan lampu hijau penyelenggaraan lembaga pendidikan di sebuah negara. Di Indonesia UU RI No.20 tahun 2003 tentang sisdiknas: “Setiap warga negara yang berusia 7 s.d. 15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar” (pasal 6)

“Setiap warga negara yang berusia 6 tahun dapat mengikutip rogram wajib belajar” (pasal 34) menjadi dasar penerimaan siswa baru di SD.

UU No.2 tahun 1989 tentang Sisdiknas pasal 39 menyatakan: “Isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarga-negaraan.

Dan masih banyak sumber UU negara Indonesia yang dijadikan dasar yuridis penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

  1. Historis

“Jas Merah” Jangan lupakan sejarah (Bung Karno). Kita tidak bisa melupakan sejarah pendidikan di Indonesia agar tidak melupakan jati diri kita sebagai warga negara dan menghargai jasa pendahulu kita.

Ada tiga tokoh pendidikan yang mewarnai pendidikan di negara ini. Mohamad Syafei yang mendirikan Sekolah Indonesisch Nedrlands School / Kayutanan di Sumatra Barat (1926) yang memiliki konsep; mendidik anak-ana agar dapat berdiri sendiri atas usaha sendiri dengan jiwa yang merdeka karena sekolah Hindia Belanda hanya menyiapkan anak-anak menjadi pegawai mereka saja.

Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa di Yogjakarta (1922) melahirkan falsafah “Tut Wuri Handayani” ‘Tut Wuri Handayani’ (mengikuti sambil mempengaruhi) Mengikuti, namun maknanya ialah mengikuti perkembangan  sang anak dengan penuh perhatian berdasarkan cinta kasih &  tanpa pamrih, tanpa keinginan menguasai & memaksa,  & makna Handayani ialah mempengaruhi dlm arti merangsang, memupuk, membimbing, memberi teladan agar sang anak mengembangkan pribadi masing-masing melalui disiplin pribadi”.

K. H. Ahmad Dahlan mendirikan Oganisasi Islam (1912) di Yogjakarta ingin mewujudkan orang muslim yang berakhlak mulia cakap, percaya kepada diri sendiri, berguna masyarakat & negara.

  1. Filosofis

Filsafat sangat penting karena harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan tentang setiap aspek kurikulum. Untuk tiap keputusan harus ada dasarnya. Filsafat adalah cara berpikir yang sedalam-dalamnya, yakni sampai akarnya tentang hakikat sesuatu.

Filsafat pendidikan terdiri dari filsafat tradisionalis yaitu esensialis, parenialis, dan filsafat tradisionalis yaitu progresivis, eksistensialis, dan rekontuksionis.

Parenialis menghendaki agar pendidikan kembali kepada jiwa yang menguasai abad pertengahan, karena ia telah merupakan jiwa yang menuntun manusia hingga dapat dimengerti adanya tata kehidupan yang telah ditentukan secara rasional.

Essentialis menghendaki pendidikan yang berpendikan atas nilai-nilai yang tinggi, yang hakiki kedudukannya dalam kebudayaan. Nilai-nilai ini hendaklah yang sampai kepada manusia melalui sivilisasi dan yang telah teruji oleh waktu. Tugas pendidikan adalah perantara atau pembawa nilai-nilai yang ada dalam gudang di luar ke dalam jiwa peserta didik, sehingga perlu dilatih agar mempunyai kemampuan absorbi (penerapan) yang tinggi.

Progressivism menghenadi pendidikan yang pada hakikatnya progresif, tujuan pendidikan hendaknya diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus, agar peserta didik dapat berbuat sesuatu yang intelligent dan mampu mengadakan penyesuaian dan penyesuaian kembali sesuai dengan tuntuan dari lingkungan.

Reconstructionsm menghendaki agar peserta didik dapat dibangkitkan kemampuannya untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik tetap berada dalam suasana aman dan bebas.

Existentialism menghendaki agar pendidikan selalu melibatkan peserta didik dalam mencari pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing dan menemukan jati dirinya, karena masing-asing individu adalah makhluk yang unik dan bertanggung jawab atas diri dan nasibnya sendiri.

  1. Psikologis

Mengetahui landasan psikologis dalam penerapan dengan pendidikan sangatlah urgent. Dengan mengetahui psikologis pendidikan (Psikologi perkembangan, psikologi belajar, dan psikologi social) maka pemberian porsi materi serta pendekatan yang digunakan dalam kegiatan kependidikan akan pas sesuai dengan tingkat perkembangannya.

  1. Sosiologis

Menurut Ibnu Taimiyyah “anak terlahir dalam keadaan fitrah”; dalam suatu keadaan kebajikan bawaan & lingkungan sosial itulah yang mempengaruhi tingkah laku manusia.

Pada tingkat dan skala mikro pendidikan merupakan gejala sosial yang mengandalkan interaksi manusia sebagai sesama (subyek) yang masing-masing bernilai setara.

  1. Antropologis

Antropologi pendidikan mencoba mengungkapkan proses-proses transmisi budaya atau pewarisan pengetahuan melalui proses enkulturasi dan sosialisasi.

G.D. Spindler berpendirian bahwa kontribusi utama yang bisa diberikan antropologi terhadap pendidikan adalah menghimpun sejumlah pengetahuan empiris yang sudah diverifikasikan dengan menganalisa aspek-aspek proses pendidikan yang berbeda-beda dalam lingkungan sosial budayanya.

  1. Ekonomi

Pada zaman pasca modern atau globalisasi sekarang ini, yang sebagian besar manusianya cenderung mengutamakan kesejahteraan materi dibanding kesejahteraan rohani, membuat ekonomi mendapat perhatian yang sangat besar.

Fungsi ekonomi dalam dunia pendidikan adalah untuk menunjang kelancaran proses pendidikan. Bukan merupakan modal untuk dikembangkan, bukan untuk mendapatkan keuntungan.

Perkembangan lain yang menggembirakan di bidang pendidikan adalah terlaksananya sistem ganda dalam pendidikan. Sistem ini bisa berlangsung pada sejumlah lembaga pendidikan, yaitu kerjasama antara sekolah dengan pihak usahawan dalam proses belajar mengajar para siswa.

  1. Religi

Manusia terdiri dari tiga komponen; “Jasmani, Rohani dan Akal”. Ketiga komponen tersebut akhirnya akan kembali kepada sang khaliq untuk mempertanggungjawabkan kinerja ketiga komponen itu. Manusia diutus ke dunia sebagai khalifah.

Selain dibekali jasmani, rohani, dan akal, manusia juga dibekali oleh ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah. Ayat kauniyah berupa gejala-gejala alam yang perlu direnungkan oleh manusia dengan menggunakan rohani dan akalnya. Sedangnya ayat-ayat qauliyah berupa kitab Al-Qur’an dan Hadits. Landasan pendidikan religi ini berkiblat kepada Al-Qur’an dan Sunah.

 

 

  1. D.    PENGELOLAAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DASAR

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Penyelenggaraan Pendidikan pada Pasal 17 Ayat (3) menyebutkan bahwa pendidikan dasar, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang (a) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (b) berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; (b) berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; (c) sehat, mandiri, dan percaya diri; (d) toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggungjawab. Berdasarkan hal tersebut, jelas bahwa tujuan pendidikan di setiap jenjang, termasuk SMP sangat berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar.

  1. E.     PENTINGNYA PENDIDIKAN DASAR

            Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang memiliki peran penting dalam pendidikan formal yang diberikan pada anak mulai dari usia sekitar 7 tahun sampai 12 tahu. Pentingnya pendidikan dasar ditegaskan oleh UNESCO (1996) yang menyatakan bahwa pendidikan dasar merupakan kunci yang sangat diperlukan untuk meletakan fondasi bagi kehidupan dalam memudahkan orang untuk memilih apa yang mereka lakukan serta merencanakan masa depan dan meletekan landasan bagi belajar sepanjang hayat (long life learning). Penyelenggaraan pendidikan dasar dimaksudkan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat. Selain itu penyelenggaraan pendidikan dasar juga berfungsi untuk menyiapkan anak untuk memenuhi jenjang pendidikan menengah (UNESCO, 1996).

Pernyataan yang dikemukakan oleh UNESCO (1996) didukung oleh pendapat Kumadinata (2004) yang menyatakan bahwa ada tiga fungsi penting dari penyelenggaraan pendidikan di sekolah dasar, yaitu : pertama, penyelenggaraan pendidikan di sekolah dasar ditujukan untuk mengembangkan kepribadian siswa. Sekolah ddasar merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang memiliki tugas untuk memberikan dasar-dasar yang kuat bagi pembentukan kepribadian, pengembangan fisik, moral, sikap dan nilai serta pengembangan potensi, kemampuan-kemampuan dasar bagi pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan pribadi siswa. Kedua, sekolah dasar diselenggarakan untuk mengembangkan potensi kemampuan untuk menjalin hubungan dan bekerja sama dalam masyarakat. Lulusan sekolah dasar merupakan calon warga masyarakat dewasa yang harus mampu berinteraksi, menjalin hubungan kerjasama dengan sesamanya dan mematuhi aturan nilai-nilai di lingkungannya. Ketiga, penyelenggaraan sekolah dasar adalah menyiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang selanjutnya.

Menurut Semiawan (1993) dalam kehidupan masyarakat, penyelenggaraan sekolah dasar tidak semata-mata ditujukan untuk memberikan kemampuan siswa membaca (melek huruf) saja atau memberikan sekumpulan pengetahuan-pengetahuan sesaat yang biasanya kurang memiliki arti dalam menanamkan kemandirian siswa. Pendapat ini dipertegas oleh pernyataan Parkay et al. (2006) yang mengungkapkan bahwa tujuan dari pendidikan di sekolah dasar adalah untuk memberikan pengalaman yang dapat membangun kepribadian siswa sebagai landasan untuk belajar pada jenjang-jenjang berikutnya. Kegagalan dalam memberikan pengetahuan dan kecakapan yang memadai pada jenjang sekolah dasar akan berakibat timbulnya kekurangan pada diri siswa yang sulit untuk diatasi. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa pendidikan dasar memegang peranan penting dalam menentukan kualitas pendidikan. Tinggi rendahnya pendidikan pada jenjang sekolah menengah akan sangat ditentukan oleh pendidikan dasar (Sanjaya, 2002).

 

  1. F.     PERATURAN TERKAIT PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DASAR

Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 199 yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah, maka pengelolaan teknis operasional penyelenggaraan pendidikan di Indonesia menjadi tanggung jawab dan kewenangan pemerintah kabupaten/kota, kecuali pengelolaan RA/MI/MTs. Tanggung jawab pemerintah pusat dalam penyelenggaraan pendidikan adalah menetapkan standar-standar penyelenggaraan pendidikan dasar, antara lain mencakup : standar isi kurikulum, standar lulusan, standar pengelolaan, standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan fasilitas belajar, standar pembiayaan, dan standar penilaian proses dan hasil secara rinci ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Pembagian Kewenangan dan Tanggung Jawab Pemeritah Pusat dan Daerah Otonom.

Pada tingkat pusat, pengelolaan pendidikan dan pembinaan pendidikan dasar dilakukan oleh Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam hal ini Direktorat Pembinaan TK/SD satuan pendidikan TK dan SD, dan Direktorat Pembinaan SMP untuk satuan pendidikan SMP. Sedangkan pembinaan program Pendidikan Anak Usia Dini, Paket A, dan Paket B dilaksnakan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah. Selain itu pembinaan satuan pendidikan RA, MI, dan MTS dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Madrasah, Direktorat Jendral Pendidikan Agama Islam, Departemen Agama.

 

  1. G.    GAMBARAN UMUM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DASAR

Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 199 yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah, maka pengelolaan teknis operasional penyelenggaraan pendidikan di Indonesia menjadi tanggung jawab dan kewenangan pemerintah kabupaten/kota, kecuali pengelolaan RA/MI/MTs. Tanggung jawab pemerintah pusat dalam penyelenggaraan pendidikan adalah menetapkan standar-standar penyelenggaraan pendidikan dasar, antara lain mencakup : standar isi kurikulum, standar lulusan, standar pengelolaan, standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan fasilitas belajar, standar pembiayaan, dan standar penilaian proses dan hasil secara rinci ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 200 tentang Pembagian Kewenangan dan Tanggung Jawab Pemeritah Pusat dan Daerah Otonom.

Pada tingkat pusat, pengelolaan pendidikan dan pembinaan pendidikan dasar dilakukan oleh Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam hal ini Direktorat Pembinaan TK/SD satuan pendidikan TK dan SD, dan Direktorat Pembinaan SMP untuk satuan pendidikan SMP. Sedangkan pembinaan program Pendidikan Anak Usia Dini, Paket A, dan Paket B dilaksnakan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah. Selain itu pembinaan satuan pendidikan RA, MI, dan MTS dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Madrasah, Direktorat Jendral Pendidikan Agama Islam, Departemen Agama.

Pendidikan dasar dimasa depan

Konsep dasar dan esensi pendidikan dasar yang dimiliki para pengambil kebijakan pendidikan dasar pada tingkat nasional, regional maupun kabupaten/kota, dan pengelola pendidikan dasar pada tingkat satuan pendidikan akan berpengaruh terhadap formula pengembangan pendidikan dasar di masa depan. Program belajar atau kurikulum pada pengembangan pendidikan dasar di masa depan harus dirancang dengan mempertimbangkan esensi dan fungsi pokok pendidikan dasar. Pengembangan program belajar pendidikan dasar harus dikaitkan dengan karakteristik kualitas sumber daya manusia yang diperlukan untuk kehidupan mereka di masyarakat, dan sekaligus mempertimbangkan karakteristik perbedaan kelompok peserta didik di masing-masing jenis dan jenjang satuan pendidikan dasar.

Konsep dasar yang komperehensif dan luas tentang fungsi pokok pendidikan dasar tidak hanya dipergunakan untuk masyarakat, tetapi hendaknya tertuju pada suatu kajian tentang praktek dan kebijakan pendidikan dasar pada tingkat awal dari semua negara yang memberikan suatu landasan yang mantap bagi praktek belajar peserta didik di masa depan, dan sekaligus mengembangkan keterampilan hidup (life skills) yang esensial untuk menghidupi sebuah kehidupan yang konstruktif dalam masyarakat.

Dalam menghadapi harapan dan tantangan masa depan yang lebih baik, pendidikan dipandang sebagai sesensi kehidupan, baik bagi perkembangan pribadi maupun perkembangan masyarakat. Misi pendidikan, termasuk pendidikan dasar adalah memungkinkan setiap orang, tanpa kecuali, mengembangkan sepenuhnya semua bakat individu, dan mewujudkan potensi kreatifnya, termasuk tanggung jawab terhadap hidup yang disebut belajar sepanjang hidup (learning throughout life), yang dipandang sebagai detak jantung dari masyarakat.

Dengan mengikuti gagasan konsep belajar sepanjang hidup, maka pengembangan program pendidikan dasar harus memberikan tekanan yang lebih besar pada salah satu dari empat pilar yang diusulkan dan digambarkan sebagai dasar pendidikan, yaitu : belajar hidup bersama (learning to live together). Dalam pola ini, pendidikan dilakukan dengna mengembangkan suatu peahaman tentang orang lain, sejarah, tradisim dan nilai-nilai spiritual mereka. Dengan bertopang pada landasan tersebut, pendidikan dasar dapat menciptakan suatu semangat baru yang dibimbing oleh kesadaran tentang resiko atau tantangan masa depan, sehingga mendorong orang melaksanakan proyek bersama atau mengelola konflik yang pasti terjadi, dengan suatu cara yang bijaksana dan damai.

Untuk mendukung terwujudnya gagasan tersebut diatas, maka strategi awal pengembangan program pendidikan dasar adalah penekanan kepada pilar pertama dari 4 (empat) pilar pendidikan UNESCO, yaitu belajar mengetahui (learning to know). Adanya perubahan yang cepat yang dibawa oleh kamjuan ilmiah dan norma-norma baru tentang kegiatan ekonomi dan sosial, tekanan pada belajar untuk hidup bersama dipadukan dengan suatu pendidikan umum yang cukup luas dnegan melalui belajar memperoleh pengetahuan sebagai alat untuk memahami hidup.

Belajar bekerja (learning to do) adalah pilar pendidikan yang selanjutnya harus dipelajari oleh peserta didik pendidikan dasar. Disamping belajar bekerja melakukan sesuatu pekerjaan, secara lebih umum perlu pula menguasai kemampuan yang memungkinkan orang mampu menghadapi berbagai situasi yang sering tidak dapat diduga sebelumnya, dan bekerja dalam berbagai tim. Akhirnya, pilar pendidikan keempat yang harus dipelajari peserta didik pendidikan dasar adalah belajar menjadi dirinya sendiri (learning to be). Hal ini berarti bahwa program belajar pendidikan dasar harus memfasilitasi peserta didik untuk belajar lebih bebas dan mempunyai pandangan sendiri yang disertai dengan rasa tanggung jawab pribadi yang lebih kuat untuk mencapai tujuan hidup pribadinya atau tujuan bersama sebagai anggota masyarakat.

Untuk mencapai tujuan pendidikan yang bermutu bagi  seluruh lapisan peserta didik pendidikan dasar, maka program belajar harus dirancang sebagai keseluruhan dari penawaran lembaga pendidikan (sekolah) termasuk kegiatan di luar kelas / sekolah dengan rangkaian mata pelajaran dan kegiatan yang terpadu. Setiap satuan pendidikan memperoleh identitas atas dasar caranya mereka menjalankan program-program belajar yang dikembangkannya. Faktor-faktor yang menentukan isi tiap program harus muncul jauh di luar batas-batas sekolah/satuan pendidikan. Faktor-faktor itu itmbul melalui kekuatan-kekuatan sosial, kultural, ekonomi, dan konsep politik. Program belajar suatu sekolah/satuan pendidikan dasar harus mewakili keseluruhan sistem pengaruh yang membangun lingkungan belajar bagi setiap peserta didik. Program itu sendiri terdiri atas unsur-unsur tertentu yang mencakup maksud dan tujuan, kurikulum, metode pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar.

Pengembangan program belajar pada tingkat pendidikan dasar harus meliputi hal-hal esensial yang dibutuhkan pesert adidik, seperti ; bidang-bidang apa yang akan disajikan ; untuk maksud-maksud khusus apa bidang studi tersebut disajikan ; bagaiman bidang studi tersebut hendak disusun dan dihubung-hubungkan ; dan bagaimana bidang studi tersebut diajarkan kepada peserta didik. Dengan kata lain, program belajar pendidikan dasar harus dikembangkan secara terpadu dan berlandaskan kepada pengembangan kemampuan pemecahan masalah yang perlu dikuasai peserta didik.

Secara konseptual, sekurang-kurangnya program belajar pendidikan dasar masa depan perlu mengakomodasikan secara sistematis dimensi-dimensi pengembangan peserta didik sebagai berikut:

  1. Pengembangan individu aspek-aspek hidup pribadi (dimensi pribadi):
  2. Religi : kesadaran beragama
  3. Fisik : kesehatan jasmani dan pertumbuhan
  4. Emosi : kesehatan mental dan stabilitas emosi
  5. Etika : integritas moral
  6. Estetika : pengejaran kultural dan rekreasi
    1. Pengembangan cara berpikir dan teknik memeriksa kecerdasan yang terlatih (dimensi kecerdasan) :
    2. Penguasaan pengetahuan : konsep-konsep dan informasi
    3. Komunikasi pengetahuan : keterampilan untuk memperoleh dan menyampaikan informasi
    4. Penciptaan pengetahuan : kesukaan akan belajar
    5. Hasrat akan pengetahuan : kesukaan akan belajar
      1. Penyebaran warisan budaya nilai-nilai civic dan moral bangsa (dimensi sosial) :
      2. Hubungan antar umat manusia : kerjasama, toleransi
      3. Hubungan individu-negara : hak dan kewajiban civic, kesetiaan dan patriotisme, solidaritas nasional
      4. Hubungan individu-dunia : hubungan antara bangsa-bangsa, pemahaman dunia
      5. Hubungan individu-lingkungan hidupnya : ekologi
        1. Pemenuhan kebutuhan sosial yang vital dan menyumbangkan kepada kesejahteraan ekonomi, sosial, dan politik lapangan teknik (dimensi produktif) :
        2. Pilihan pekerjaan : informasi dan bimbingan
        3. Persiapan untuk bekerja : latihan dan penempatan
        4. Rumah dan keluarga : mengatur rumah tangga, keterampilan mengerjakan sesuatu sendiri, perkawinan
        5. Konsumen : membeli, menjual, investasi

 

  1. H.    KRITERIA PENDIDIK

Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifkasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Tenaga pendidik untuk pendidikan formal pada jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi dihasilkan oleh perguruan tinggi yang terakreditasi. Pendidik berkewajiban untuk (1) menciptakan suasan belajar yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis, (2) memounyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan, dan (3) memberikan teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

DAFTAR PUSTAKA

 

(http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/196111141987031-ELIH_SUDIAPERMANA/Tujuan_Pendidikan_Dasar.pdf)

Gulo, W. Strategi Belajar-Mengajar. PT Grasindo. 2008. Jakarta

http://repository.upi.edu/operator/upload/d_pk_055985_chapter1.pdf

Nurkholis. Manajemen Berbasis Sekolah. PT Grasindo. 2006. Jakarta

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP – UPI. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan : Bagian 4    Pendidikan Lintas Bidang. PT Imperial Bhakti Utama. Bandung. 2007

 


[1]  W. Gulo, Strategi  Belajar Mengajar (Jakarta : Grasindo, 2008), hlmn. 45.

Kompensasi, Pengintegrasian, Penempatan

  1. Kompensasi

Kompensasi merupakan hal yang diterima oleh pegawai, baik berupa uang atau bukan uang sebagai balas jasa yang diberikan bagi upaya pegawai (kotribusi pegawai) yang diberikan untuk organisasi. Pengelolaan kompensasi merupakan kegiatan yang amat penting dalam membuat pegawai cukup puas dalam pekerjaannya. Dengan kompensasi kita bisa memperoleh/menciptakan, memlihara, dan mempertahankan produktivitas. Tanpa kompensasi yang memadai, pegawai yang ada sekarang cenderung untuk keluar dari organisasi dan organisasi akan mengalami kesulitan dalam replacement, terlebih dalam recruiting.

Kompensasi adalah keseluruhan balas jasa yang diterima oleh pegawai sebagai akibat dari pelaksanaan pekerja di organisasi dalam bentuk uang atau lainnya, yang dapat berupa gaji, upah, bonus, intensif, dan tunjangan lainnya seperti tunjang kesehatan, tunjangan hari raya, uang makan, uang cuti, dan lain-lain. Pembayaran kompensasi diatas ada yang dikaitkan langsung dengan kinerja seperti upah atau gaji, bonus, dan komisi sehingga sering disebut dengan kompensasi langsung, dan ada yang tidak dikaitkan langsung dengan kinerja sebagai upaya menngkatkan ketenangan dan kepuasan kerja pegawai seperti tunjangan-tunjangan.

Pembayaran kompensasi langsung dapat didasarkan pada jabatan atau kedudukan seperti manajer, supervisor, sekretaris, atau pegawai pabrik yang dibayar berdasarkan waktu seperti pegawai menerima upah harian, mingguan, atau bulanan dalam jumlah yang tetap. Kompensasi ini umumnya disebut gaji atau upah. Diluar gaji dan upah, para pegawai mendapatkan tmabahan penghasilan yang dibayar berdasarkan jumlah produk yang dihasilkan atau pembayaran yang didasarkan pada unjuk kerja seperti intensif, komisi, dan bonus. Selain itu, biasanya sewaktu-waktu pegawai menerima penghasilan lain seperti tunjangan dari raya dan kesehatan yang didasarkan pada keanggotaannya sebagai pegawai di perusahaan, bukan berdasarkan kinerja pegawai tersebut secara langsung.

Tujuan utama pemberian kompensasi tampaknya sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi, yaitu untuk menarik pegawai yang berkualitas, mempertahankan pegawai, memotivasi kinerja, membangun komitmen karyawan, dan satu hal yang sering kali terlupakan adalah mendorong peningkatan pengetahuan dan keterampilan karyawan dalam upaya menngkatkan kompetensi organisasi secara keseluruhan. Sehingga, kompensasi dapat juga dilihat sebagai salah satu aspek pengembangan

Ketidakpuasan akan pembayaran bisa menimbulkan turunnya rasa tertarik pada diri pegawai akan pekerjaannya yang sekarang, keinginan untuk mencari imbalan lebih dengan cara mencari pekerjaan baru, mogok kerja, keluhan-keluhan.

  1. Pengitegrasian

Kata kunci dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) didalam organisasi adalah integrasi keseluruhan program pengembangan dalam satu-kesatuan yang sistemik, prosedural, dan saling melengkapi. Tuntutan model integrasi sistem dalam program pengembangan SDM bertujuan agar organisasi mampu menjalankan sistem pengembangan SDM secara akuntabel. Selain itu, organisasi dituntut untuk mampu meningkatkan kinerja pengembangan SDM hingga ke tingkat yang paling maksimum.

Hal ini setidaknya dapat dilihat dari persyaratan utama yang harus dipenuhi pada saat menggunakan model integrasi pengembangan SDM. Model integrasi itu berupa konsep yang digunakan pada satu aspek pengembangan SDM. Konsep itu harus selaras dengan visi, misi, tujuan, dan sasaran organisasi.

Pengertian pengintegrasian adalah aktivitas untuk mempersatukan kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerja sama yang serasi, sinergis dan saling menguntungkan. Saling menguntungkan dalam hal ini adalah bagi perusahaan tentu saja kaitannya dengan perolehan laba yang optimal dan bagi karyawan dapat memperoleh imbal jasa yang bisa memnuhi kebutuhannya. Oleh karena mempersatukan dua kepentingan yang bertolak belakang, aktivitas pengintegrasian merupakan hal yang penting dan sulit dalam manajemen sumber daya manusia.

  1. Penempatan

Penempatan pegawai dilakukan untuk memanfaatkan sumber daya manusia yang ada secara optimal. Adanya pegawai yang keluar, pensiun, dan meninggal dunia mengakibatkan perlu dilakukan perekrutan dan seleksi pegawai baru yang selanjutnya harus ditempatkan pada jabatan yang tepat. Untuk meningkatkan kepuasan kerja pegawai sebagai suatu kebutuhan pegawai yang harus diperhatikan melalui penempatan seseorang pada jabatan yang tepat dalam upaya merealisasikan tujuan karier pegawai, perlu dilakukan penempatan. Untuk meningkatkan kompetensi organisasidalam bentuk adanya persediaan pegawai yang memadai perlu dilakukan rotasi kerja untuk memberikan pengalaman baru dan pengetahuan baru bagi pegawai. Peningkatan persaingan bisnis dan perubahan teknologi sering kali membuat perusahaan harus mengurangi tenaga kerja untuk meningkatkan efisiensi yang jjuga merupakan implikasi pada penempatan.

Semua proses diatas umumnya dilakukan melalui kegiatan promosi/penigkatan jabatan, transfer/pengalihan jabatan, demosi / penurunan jabatan, dan pemutusan hubungan kerja sementara atau permanen. Pelaksanaan kegiatan ini sudah barang tentu harus dilakukan dengan baik dalam upaya meningkatkan dukungan sumber daya manusia terhadap organisasi.

Aspek lain yang berkaitan dengan usaha penempatan yang efektif adalah untuk meningkatkan kontribusi mereka yang lebih efektif terhadap organisasi. Untuk pegawai baru yang direkrut dan diseleksi, perusahaan tampaknya harus melakukan program orientasi sebagai upaya mensosialisasikan pekerjaan dan organisasi kepada pegawai tersebut. Pegawai lama yang dipromosikan dan ditransfer pun mungkin masih memerlukan orientasi sebelum menduduki jabatan tertentu yang juga akan dijelaskan kemudian.

Sumber :

Hariandja, Marihot Tua Efendi. Manajemen Sumber Daya Manusia. PT Grasindo. 2002.   Jakarta.

Fuad, Noor dan Gofur A.. Integrasi Human Resources Development. PT Grasindo. 2009.             Jakarta

Arifin, Johar dan Fauzi A.. Aplikasi Excel dalam Aspek Kuntitatif Manajemen Sumber Daya          Manusia. PT Elex Media Komputindo. 2007. Jakarta

Pengertian Belajar dan Pembelajaran

Belajar

Menurut Skinner belajar merupakan suatu perilaku. Dengan belajar maka responnya akan lebih baik dibanding  orang yang tidak belajar. Gagne berpendapat bahwa belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Setelah belajar seseorang pasti memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Semua itu didapatkan dari stimulasi dari lingkungan serta proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajaran. Piaget mengatakan belajar merupakan pengetahuan yang dibentuk oleh individu karena individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan yang terus berkembang dan mengalami perubahan.

Berbeda lagi dengan W. S. Winkel, beliau mengatakan belajar adalah bentuk perubahan diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru, akibat pengalaman dan latihan. Sartain mengungkapkan “The process by which a relativity enduring change in behavior occurs a result of experience practice” (belajar merupakan proses perubahan tingkahlaku yang relatif  tahan lama sebagai hasil dari pengalaman). Kemudian Surya, belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Jadi disimpulkan bahwa belajar adalah proses usaha untuk memperoleh perubahan dalan tingkah laku, pengetahuan, dan keterampilan individu yang didapatkan dari pengalaman dan interaksi individu terhadap lingkungan dan sosial.

Pembelajaran

Menurut Gagne, Briggs, dan Wagner dalam Udin S. Winataputra (2008) pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa. Dalam UU Nomor 20 Tahunn 2003 tentang Sisdiknas pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Dapat disimpulkan, pembelajaran itu merupakan kegiatan interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar yang memungkinkan terjadinya proses belajar peserta didik.

  1. Mencari perbedaan antara pembelajaran dan pengajaran

Pengajaran (kamarudin, 1993) merupakan penanganan urusan untuk memungkinkan siswa mengetahui atau menyelesaikan sesuatu yang mereka tidak dapat lakukan sendiri sebelumnya. Sedangkan, pembelajaran (UUSPN Nomor 20 Tahun 2003) merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar. Jadi, perbedaan antara penmbelajaran dan pengajaran terdapat pada prosesnya, karena pada dasarnya pembelajaran yang disampaikan kepada siswa akan berjalan dengan baik apabila dijalankannya pengajaran yang baik pula. Pengajaran dilakukan karena adanya masalah yang tidak bisa ditangani oleh peserta didik itu sendiri. Sedangkan, pembelajaran merupakan interaksi yang dilakukan pendidik dengan peserta didik yang menyampaikan suatu pengetahuan baru.

Sumber :

Mudjiono, dan Dimyati. Belajar dan Pembelajaran.

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan(2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bagian III :        Pendidikan Disiplin Ilmu. PT Imperial Bhakti Utama.

Arlian, R. T., Aan F., Vella U. F. R., Lady A., dan Irma M. (2010). Konsep Dasar Belajar dan      Pembelajaran Secara Universal dan Perspektif Islam . Pendidikan Biologi, 10.