Makalah Quantum Teaching dan Multiple Intelligence

QUANTUM TEACHING DAN MULTIPLE INTELLIGENCES

TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Dosen : Dr. Hj. Neti Karnati, MPd

 

 

 

Di Susun Oleh :

Kelompok 5

 

  1. 1.  Dita Rosmaya                       1445110638
  2. 2.  Maulana Idris                       1445110624
  3. 3.  Riska Oktiviarindi                1445110611
  4. 4.  Winda Purnama                             1445110629

 

 

 

 

MANAJEMEN PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

 NOVEMBER 2012

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas berkah dan rahmatNya kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Makalah ini kami susun untuk memenuhi sebagian tugas mata kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran.

Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih kepada dosen yang telah memberikan tugas ini dan kepada pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini dengan baik.

Tujuan kami membuat makalah ini adalah agar kami dapat memahami materi  mengenai Quantum Teaching dan juga Multiple Intelligences.

Kami berharap makalah yang kami buat ini berguna bagi siapa saja yang membacanya serta sesuai dengan apa yang diharapkan oleh dosen mata kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran kami yakni Ibu Hj. Netti Karnati, M.Pd.

Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar terciptanya makalah yang sempurna.

Jakarta, November 2012

Penulis

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar………………………………………………………………………………………………………… i

Daftar Isi………………………………………………………………………………………………………………….ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………………………………………….1

1.2 Identifikasi Masalah………………………………………………………………………………….1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Konsep Quantum Teaching………………………………………………………………………..2

2.2 Asas- Asas Quantum Teaching…………………………………………………………………..3

2.3 Prinsip- Prinsip Quantum Teaching…………………………………………………………….3

2.4 Model Quantum Teaching…………………………………………………………………………4

2.5 Kerangka Rancangan Belajar Quantum Teaching…………………………………………9

2.6 Penerapan Quantum Teaching dalam Pembelajaran…………………………………….11

2.7 Pengertian Kecerdasan…………………………………………………………………………….12

2.8 Konsep Multiple Intelligences…………………………………………………………………..13

2.9 Syarat dan Kriteria Suatu Inteligensi…………………………………………………………13

2.10 Aspek- Aspek Multiple Intelligences……………………………………………………….14

2.11 Multiple Intelligences dalam Pembelajaran……………………………………………….19

2.12 Strategi Pengajaran Multiple Intelligences………………………………………………..20

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………………………….22

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………………..23

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

 

Proses- proses pembelajaran yang dilakukan oleh para guru pada umumnya seringkali mengabaikan bahwa lingkungan belajar siswa dan juga apa yang ada dalam diri siswa dapat mempengaruhi proses pembelajaran para siswa itu sendiri, Dalam hal tersebut para guru dituntut untuk dapat menjalankan tugasnya sebagai tenaga pendidik dengan baik. Para guru juga dituntut untuk dapat menciptakan kegiatan belajar yang aktif, kreatif, efektif, dan juga menyenangkan dengan cara mengetahui karakteristik siswa yang bermacam- macam dan juga keadaan disekitar para siswa.

Dalam pelaksanaan pembelajaran juga para tenaga pendidik dituntut harus mengetahui keberagaman karakteristik dan juga kecerdasan siswa. Dalam hal tersebut para guru dituntut untuk dapat menyesuaikan segala kegiatan pembelajaran dengan berbagai macam kecerdasan siswa. Dalam kegiatan pembelajaran juga harus disertai dengan pemahaman guru mengenai karakteristik masing- masing siswa dan juga metode- metode yang dapat digunakan untuk menyeimbangkan keberagaman karakteristik siswa tersebut guna mencapai terciptanya keadaan belajar yang kondusif.

 

1.2 Identifikasi Masalah

 

            Menjelaskan mengenai Quantum Teaching serta Multiple Intelligences dan juga penerapannya dalam pembelajaran agar dapat menambah wawasan dalam bidang tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Konsep Quantum Teaching

           

            Quantum teaching adalah penggubahan belajar yang meriah, dengan segala nuansanya. Quantum teaching juga menyertakan segala kaitan, interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas- interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar.[1]

Quantum teaching dikembangkan oleh seorang guru dalam pembelajaran. Quantum teaching sendiri berawal dari sebuah upaya Georgi Lozanov, pendidik asal Bulgaria, yang bereksperimen dengan suggestology. Prinsipnya, sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar. Kata quantum sendiri berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Jadi, quantum teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang berada di dalam kelas. Bila metode ini diterapkan, maka guru akan lebih mencintai dan lebih berhasil dalam memberikan materi serta lebih dicintai anak didik karena guru mengoptimalkan berbagai metode.[2]

Colin Rose juga berpendapat bahwa Quantum Teaching adalah panduan praktis dalam mengajar yang berusaha mengakomodir setiap bakat siswa atau dapat menjangkau setiap siswa.

Dalam Quantum Teaching terdapat beberapa kata kunci yang harus dipahami sebelum mengetahui materi- materi yang lebih dalam, yakni: Quantum yang berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya, pemercepatan belajar yaitu menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara efektif penyajian, dan “keterlibatan aktif”, fasilitasi merupakan memudahkan segala hal dalam menyingkirkan hambatan belajar, mengembalikan proses belajar ke keadaan yang mudah dan alami.[3]

 

 

2.2 Asas Utama Quantum Teaching

            Quantum Teaching bersandar pada konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Kita ke Dunia Mereka”. Konsep tersebut melandasi segala hal yang dilakukan dalam Quantum Teaching, setiap interaksi dengan siswa, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode instruksional.[4]

Konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Kita ke Dunia Mereka” mengandung pengertian bahwa sebelum mengajar para guru harus mengetahui  dan memasuki dunia muridnya dengan tujuan mendapatkan hak untuk mengajar dimana guru mendapat izin untuk memimpin, menuntun, dan memudahkan perjalanan para murid menuju kesadaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Dengan mendapatkan hak tersebut maka dengan sendirinya “guru telah membawa para murid kedalam dunia para guru”. Sehingga makna “dunia kita” tidak hanya dimiliki para siswa tetapi juga para guru sehingga siswa dapat membawa yang mereka pelajari kedunia mereka dan menerapkannya pada situasi baru.[5]

2.3 Prinsip- Prinsip Quantum Teaching

     

            Quantum teaching akan membantu siswa dalam menumbuhkan minat siswa untuk belajar dengan semangat. Quantum teaching juga sangat menekankan pada pentingnya bahas tubuh, sepert senyum, bahu tegak, kepala ke atas, mengadakan kontak mata dengan siswa, dan lain-lain. Selain itu, ada beberapa prinsip quantum teaching, yaitu sebagai berikut

  1. Segalanya berbicara. Lingkungan kelas, bahasa tubuh, dan bahan pelajaran semuanya menyampaikan pesan tentang belajar.
  2. Segalanya bertujuan. Siswa diberi tahu apa tujuan mereka mempelajari materi yang diajarkan.
  3. Pengalaman sebelum memberikan nama. Otak kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan menggerakan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.
  4. Akal setiap usaha. Menghargai usaha siswa sekecil apapun. Belajar mengandung resik. Belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Pada siswa mengambil langkah ini. Mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
  5. Jika layak dipelajari. Layak pula dirayakan, kita harus memberi pujian pada siswa  yang terlibat aktif pada pelajaran kita. Misalnya saja dengan memberik tepuk tangan, berkata : bagus !, baik !, dan lain-lain.[6]

2.4 Model Quantum Teaching

           

            Model quantum teaching hampir sama dengan sebuah simfoni. Kita dapat membagi unsur-unsur tersebut menjadi dua kategori, yaitu sebagai berikut :

1)   Konteks

Konteks merupakan latar untuk pengalaman anda. Konteks mencakup        lingkungan, suasana, landasan, dan rancangan.

  1. Suasana. Maksudnya, suasana kelas mencakup bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa simpati dengan siswa, daaan sikap guruterhadap sekolah serta belajar. Suasana yang penuh kegembiraan membawa kegembiraan pula dalam belajar.
  2. Landasan. Maksudnya, adalah kerangka kerja : tujuan, prinsip keyakinan, kesepakatan, kebijakan, prosedur, dan aturan bersama yang memberi guru dan siswa sebuah pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar.

a)    Tujuan, mengembangkan kecakapan dalam mata pelajaran, menjadi pelajaran yang lebih baik dan berinteraksi sebagai pemain tim, serta mengembangkan keterampilan lain yang dianggap penting.

b)   Prinsip, gambaran tentang cara yang dipilih para anggotanya untuk menjalani kehidupan ini. Prinsip ini mirip dengan kesadaran bersama yang akan menuntun perilaku dan membantu tumbuhnya lingkungan yang saling mempercayai dan mendukung. Agar prinsip melekat, setiap orang dikelas harus setuju bahwa prinsip tersebut penting dan harus dijunjung tinggi. Dibawah ini adalah salah satu set prinsip quantum teaching yang biasa disebut 8 kunci keunggulan, sebagai berikut

  • Integritas, bersikaplah jujur, tulus, dan menyeluruh. Selaraskan nilai dengan perilaku anda.
  • Kegagalan awal kesuksesan, pahamilah bahwa kegagalan hanyalah memberikan informasi yang anda butuhkan untuk sukses. Kegagalan itu tidak ada, yang ada hanya hasil dan umpan balik. Semuanya dapat bermanfaat jika anda tahu cara menemukan hikmahnya.
  • Bicaralah denga niat baik, berbicaralah dengan pengertian positif, dan bertanggunglah untuk berkomunikasi yang jujur dan lurus. Hindari gosip dan komunikasi yang berbahaya
  • Hidup di saat ini, pusatkan perhatian anda pada saat sekarang ini, dan manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Kerjakan setiap tugas sebaik mungkin.
  • Komitmen, penuhi janji dan kewajiban anda ; laksankan visi anda. Lakukan yang apa yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan anda.
  • Tanggung jawab, bertanggungjawablah atas tindakan anda.
  • Sikap luwes atau fleksibel, bersikaplah tebuka terhadap perubahan atau pendekatan baru yang dapat membantu memperoleh hasil yang diinginkan.
  • Keseimbangan, jaga keselarasan pikiran, tubuh, dan jiwa anda. Sisihkan waktu untuk membangun dan memlihara tiga bidang ini.

c)    Keyakinan, yakinlah dengan kemampuan mengajar dan kemampuan siswa belajar. Bertindak seolah-olah menjadi guru terhebat di dunia, dengan bersikap penuh percaya diri. Suatu saat guru akan percaya akan kemampuannya sendiri.

d)   Kesepakatan, lebih formal dari peraturan, dan merupakan daftar cara sederhana dan konkret untuk melancarkan jalanya pelajaran.

e)    Kebijakan, mendukung tujuan komunitas belajar dan menjelaskan urutan tindakan untuk situasi tertentu. Misalnya, jika siswa tidak dapat hadir, mereka meminta tugas yang terlewat dari guru.

f)    Prosedur, memberi tahu siswa apa yang diharapkan dan tindakan apa yang diambil. Misalnya berbaris di depan pintu sebelum masuk, tempat mengumpulkan pekerjaan rumah, dan sebagainya.

g)   Peraturan, lebih ketat daripada kesepakatan atau kebijakan. Melanggar peraturan harus menimbulkan konsekuensi yang jelas. Misalnya, karena kita saling mendukung, maka tidak ada kata ejekan, jika ada yang melanggar, konsekuensinya bisa berupa peringatan, setrap, dan sebagainya.

  1. Lingkungan. Cara menata ruang kelas : pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik, semua hal yang mendukung proses belajar.
    1. Lingkungan sekeliling. Lingkungan yang ada di sekeliling dapat membantu daya ingat, seperti sebuah gambar lebih berarti daripada seribu kata-kata. Bisa juga dengan menciptakan poster ikon (gambar-gambar yang nantinya akan dipajang pada dinding), poster afirmasi (poster motivasi dengan pesan-pesan yang membuat siswa semangat).
    2. Alat bantu. Benda yang dapat mewakili suatu gagasan, seperti boneka untuk mewakili tokoh dalam karya sastra.
    3. Pangaturan bangku. Disesuaikan dengan jenis interaksi yang akan digunakan, seperti setengah lingkaran untuk diskusi kelompok.
    4. Tumbuhan, aroma, hewan peliharaan, dan unsur organik lainnya. Tumbuhan menambah keadaan estetika, binatang dapat menenangkan dan mengeluarkan sifat penyayang, aroma memicu respon seperti ketenangan, depresi, kelaparan, kecemasan.
    5. Musik. Digunakan untuk menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar.

d. Rancangan, interpretasi sang maestro terhadap lembaran musik. Maksudnya adalah penciptaan terarah pada unsur-unsur penting yang bisa menumbuhkan minat siswa untuk mendalami makna, dan memperbaiki postur tukar-menukar informasi.

 

            Jika keempat aspek ini ditata dengan cermat, suatu keajaiban akan terjadi. Konteks itu sendiri benar-benar menciptakan rasa saling memiliki, yang kemudian akan meningkatkan rasa memiliki dan penghargaan. Kelas akan menjadi komunitas belajar, tempat yang dituju para siswa dengan senang hati, bukan karena keterpaksaan.

2)   Isi

                  Salah satu unsur isi adalah bagaimana (penyajian). Isi juga meliputi fasilitas ahli sang maestro terhadap orkestra, memanfaatkan bakat setiap pemain musik dan potensi setiap instrumen.

                  Presentasi, seperti isi dalam simfoni, yaitu bagian kurikulum yang ringkas dan bergairah, anggun tapi menarik, penyaji yang piawai, baik seorang guru TK atau penceramah motivasional, memiliki strategi dan teknik yang jelas untuk memastikan bahwa sajian mereka memiliki dampak. Guru adalah salah satu faktor yang paling berarti dan berpengaruh dalam kesuksesan setiap siswa sebagai pelajar. Berikut adalah empat komunikasi ampuh, yaitu sebagai berikut

1)      Munculkan kesan, manfaatkanlah kemampuan otak untuk menyediakan asosiasi yang kaya. Susunlah perkataan yang menimbulkan citra yang dapat memacu belajar siswa. Misalnya, “Bagian ini sangat menantang, maka simaklah baik-baik, supaya kalian memahaminya”. Jangan mengatakan hal, “Anak-anak, bagian bab ini paling sulit dan membosankan jadi kalian harus waspada kalau tidak mau gagal”.

2)      Arahkan fokus, memanfaatkan kemampuan otak yang mampu memilih dari banyaknya input indrawi, dan memusatkan perhatian otak. Maksudnya seorang guru harus bisa memusatkan perhatian siswa pada bahasan yang akan seorang guru bahas. Misalnya jangan menggunakan, “Jangan dekati perlengkapan seni saat kalian pindah ke kelompok kalian”. Hal itu justru menarik perhatian ke perlengkapan seni, arahkan fokus dengan, “Cari tempat berkumpul ke kelompok kalian. Pindahlah langsung ke tempat itu, dan bawa buku kalian”. Tanpa menyebut perlengkapan seni dan menyebutkan fokus yang jelas, kita bisa mengarahkan siswa agar tidak mendekati perlengkapan seni tersebut.

3)      Inklusif (bersifat mengajak), di dalam perkataan seorang guru harus menimbulkan asosiasi yang positif. Misalnya, “Bapak ingin kalian mengeluarkan buku kalian”. Yang harus kalian lakukan berikutnya adalah mengeluarkan pekerjaan rumah kemarin”. “Bapak minta kalian mengumpulkan bahan-bahan kalian”. Pesan dibalik kalimat itu mengesankan “Saya pengang kendali dan kalian harus melakukan apa yang saya perintahkan”. Sebaliknya, “Mari kita keluarkan buku”. “Sekarang keluarkan pekerjaan rumah kalian”. “Sudah waktunya mengumpulkan bahan-bahan kita”. Perubahan sederhana dalam kata dapat meningkatkan hubungan kerja sama yang menyeluruh, setiap orang diajak.

4)      Spesifik (bersifat tepat sasaran), katakanlah yang perlu dikatakan dengan kejelasan sebanyak mungkin dan jumlah kata sedikit mungkin. Inilah yang disebut hemat bahasa. Misalkan para siswa bersiap-siap untuk beristirahat. Jadi guru berkata, “Anak-anak, bersiap-siaplah untuk beristirahat”. Seharusnya, “Anak-anak, kembalikan bahan ketempatnya dengan rapih, masukan sampah ketempat sampah, dan simpan kertas kalian dalam rak berlabel lalu kalian boleh beristirahat”, hemat bahasa disini bukan berarti sedikit berbicara, namun kejelasan tujuan yang akan guru sampaikan kepada siswanya.

      Fasilitasi, dengan memfalitasi keadaan siswa untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk memahami, berpartisipasi, berfokus, dan menyerap informasi. KEG, membantu membungkus dan menyampaikan penghargaan guru kepada muridnya.

  1. Know it (ketahui hasilnya), pahamilah semua yang akan anda sampaikan, rupa (tabel yang berisi tiga faktor untuk kejadian dan akibatnya), bunyi (siswa saling berdiskusi melengkapi tabel), rasa hasil (siswa dengan tenang pergi ke rak buku untuk mencari informasi), sejauh mana guru mengetahui rupa, bunyi, rasa hasil, guru dapat mengkomunikasikannya dengan jelas dan mendapat hasil yang diinginkan.
  2. Explain it (jelaskan hasilnya), setelah mengetahui dengan jelas rupa, bunyi, dan rasa hasil. Jelaskan kepada siswa bayangan tentang hasil itu, beberkan secara terbuka, gunakan rumus yang spesifik. Misalnya, “Tantangan ini sederhana, kualitasnya pasti luar biasa. Begini caranya, gambarkan dengan jelas, boleh menggunakan media …, pastikan siklusnya berwarna, dinamai dengan benar, … serinci mungkin.”
  3. Get it (dapatkan hasilnya), perhatikan dan dengarkan dengan siswa memulai, jika tidak mematuhi beri tahu mereka dan beri umpan balik, hentikan sesaat dan katakan mutu pekerjaan mereka. Lebih baik lagi katakan perbaikan yang perlu siswa lakukan, lalu lanjutkan kembali.

Menciptakan strategi berpikir dapat menyingkap bagaimana siswa mencapai suatu jawaban dan mendukung waktu berpikir. Misalnya dengan melontarkan pertanyaan, maka memberikan kesempatan kepada kita untuk menghargai dan mengakui patisipasi dan pengambilan risiko siswa. Dengan bertanya, maka akan memberi guru kesempatan untuk mengasah dan membuka pikiran siswa; menggerakan pikiran mereka hingga memperoleh jawaban.

Keterampilan belajar dengan keterampilan belajar yang tepat, semua siswa dapat memahami sebagian besar informasi dalam waktu yang guru perlukan untuk menjelaskan informasi. Lima keterampilan yang merangsang belajar adalah sebagai berikut :

  1. Konsentrasi terfokus
  2. Cara mencatat
  3. Organisasi dan persiapan tes
  4. Membaca cepat
  5. Teknik mengingat

Keterampilan hidup sebagaimana seorang konduktor piawai menyuarakan musik yang indah dari setiap musisinya, guru juga mengorkestrai ketulusan dan efektifitas siswa melalui keterampilan pribadi, dikenal pula dengan keterampilan hidup, keterampilan sosial, keterampilan ini memberdayakan setiap orang untuk membina dan memlihara hubungan orang lain. Keajaiban pengalaman menjadi terbuka karena konteksnya tepat, dan membuat musik menjadi hidup. Saat anda mengubah kesuksesan siswa, unsur-unsur yang sama tersusun dengan baik : suasana, lingkungan, landasan, rancangan, penyajian, fasilitas, keterampilan belajar dan keterampilan hidup.[7]

2.5 Kerangka Rancangan Belajar Quantum Teaching

           

            Quantum Teaching memodelkan filosofi pengajaran dan strateginya. Kerangka rancangan belajar Quantum Teaching dikenal sebagai TANDUR dengan makna[8] :

  • Tumbuhkan

Memanfaatkan kehidupan pelajar dengan menyertakan diri mereka, pikat mereka. Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaatnya BagiKu” (AMBAK). Dengan menyertakan pertanyaan, pentomime, lakon pendek dan lucu, drama, video, cerita. Di dalam buku Quantum Teaching dijelaskan kunci kelucuan sebuah lelucon, jika kita memberikan sebuah lelucon apakah anada akan termotivasi untuk mendengarkan ? Apakah anda akan mendapatkan “ge-er” yang mucul setelah lelucon diceritakan ? Jika tidak, pikirkan kembali untuk menyusun ulang, seperti kunci lelucon adalah di awal lelucon itu sendiri, yaitu memberi siswa pilihan yang cepat dan mudah.

  • Alami

Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar. Unsur ini memberi pengalaman kepada siswa, dan memanfaatkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Pengalaman membuat anda dapat mengajar “melalui pintu belakang” untuk memanfaatkan pengetahuan dan keinginan mereka. Misalnya dengan cara permainan, gunakan jembatan keledai, perankan unsur-unsur baru dalam sandiwara, beri mereka tugas kelompok dan kegiatan yang mengaktifkan pengetahuan yang sudah mereka miliki.

  • Namai

Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi : sebuah “masukan”. Penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan. Penamaan dibangun di atas pengetahuan dan keingintahuan siswa saat itu. Penamaan adalah saatnya untuk mengajarkan konsep, keterampilan berpikir, dan strategi belajar. Misalnya dengan menggunakan susunan gambar, warna, alat bantu, kertas tulis, dan poster di dinding. Dari situ, guru membuat mereka penasaran, penuh pertanyaan mengenai pengalaman mereka.

  • Demonstrasikan

Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukan bahwa mereka tahu, misalnya dengan sandiwara, video, permainan, rap, lagu, penjabaran dalam grafik. Seperti mengendarai sepeda, saat mencoba, dan jatuh (pengalaman), mencoba lagi, berhenti, bertanya, barangkali dapat latihan dari kakak atau teman (penamaan). Kemudian mengaitkan antara pengalaman dan nama dengan cara menunjukan dan melakukannya.

  • Ulangi

Tunjukan pada pelajar cara-cara mrngulang materi dan menegaskan, pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “Aku tahu bahwa aku memang tahu ini”. Misalnya dengan cara siswa diberi kesempatan untuk mengajarkan pengetahuan baru mereka kepada orang lain (kelas lain, kelompok umur yang berbeda, menirukan orang-orang terkenal seperti guru, ahli, tokoh), menggemakan (guru menyebutkan sesuatu seperti “pendahuluan, isi, kesimpulan” dan para siswa mengulanginya secara serentak).

  • Rayakan

Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan. Perayaan memberi rasa rampung dengan menghormati usaha, ketekunan, dan kesuksesan. Sekali lagi, jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Misalnya dengan pujian, bernyanyi bersama, pamer pada pengunjung, pesta kelas.

 

2.6 Penerapan Quantum Teaching Dalam Pembelajaran

Pendekatan Quantum Teaching telah dicoba diadopsi dalam strategi pembelajaran  yang diterapkan di sekolah-sekolah kita. Berdasarkan UU RI/ 2003, PP RI N0.19/2005 dan Permen Diknas RI No.41/2007 ditetapkan Standar Proses Pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Salah satu contohnya dengan diterapkannya strategi PAKEM = Pembelajaran Aktif, Kretif, Efektif dan Menyenangkan. Pakem merupakan strategi pembelajaran terpadu yang melibatkan variasi metode, teknik, media/ sumber belajar  dan evaluasi hasil belajar.

  • Pembelajaran aktif  bertolak dari pandangan bahwa dalam belajar siswalah yang harus aktif,  dalam arti siswa harus aktif mengkonstruksikan pengetahuan di dalam dirinya sendiri. Pengetahuan merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman dan interaksinya dengan lingkungan, proses pembentukan berjalan terus menerus dan setiap kali terjadi rekonstruksi karena adanya pemahaman yang baru. Pembelajaran aktif bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh peserta didik, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan.
  • Pembelajaran kreatif menekankan kepada bagaimana guru memfasilitasi kegiatan belajar siswa sehingga suasana belajar siswa kondusif, hal ini menuntut kreativitas guru dalam mengemas bahan pembelajaran. Dengan pengemasan pembelajaran yang kreatif diharapkan siswa juga dapat terangsang untuk melakukan kegiatan-kegiatan kreatif.
  •  Pembelajaran efektif  dilaksanakan dengan menerapkan prosedur pembelajaran yang sistematis dan sistemik. Hal ini dilakukan dengan menerapkan pendekatan pembelajaran yang inovatif seperti belajar kooperatif, kontekstual dan belajar berbasis masalah.
  • Pembelajaran menyenangkan dapat dimulai dengan menciptakan kondisi yang memungkinkan peserta didik memiliki pengalaman belajar yang melalui berbagai sumber, baik sumber yang dirancang maupun yang dimanfaatkan.

            Berdasarkan paparan di atas, maka strategi Pakem yang diterapkan akan meningkatkan peran guru menjadi lebih bermakna lagi yaitu sebagai fasilitator dan motivator pembelajaran. Guru dituntut harus mampu merencanakan, menciptakan & menemukan kegiatan yang bersifat menantang yang akan membuat peserta didik berpikir, memberikan alasan logis & menggunakan pemikiran secara baik.

 

2.7 Pengertian Kecerdasan

           

            Kecerdasan atau Intelligences memiliki pengertian yang sangat luas. Para ahli Psikologi mengartikan bahwa kecerdasan merupakan keseluruhan kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan, menguasainya, serta mempraktekannya dalam suatu masalah. Selain iti pengertian kecerdasan juga dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya :

                        1. Intelligence as ‘the capacity to solve problems or to fashion products that            are valued in one or more cultural setting’. Yang dapat diartikan bahwa inteligensi      sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam    suatu setting yang bermacam- macam dan dalam situasi yang nyata. (Gardner)[9]

2. Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk melihat         suatu masalah lalu menyelesaikannya atau membuat sesuatu yang berguna bagi orang   lain. (Hadi Susanto 2005:68)

3. Kecerdasan adalah kemampuan untuk menangkap situasi baru serta         kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang.(Thomas Armstrong     2002:2)

4. Menurut Binet seorang psikolog Prancis, kecerdasan adalah kemampuan             untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan untuk mengadakan penyesuaian             dalam rangka mencapai tujuan untuk bersikap kritis terhadap diri sendiri. (M.Theresia        2001:9)

5. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999), kecerdasan adalah perihal        cerdas atau kesempurnaan perkembangan akal budi.

Jadi dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan merupakan suatu kemampuan dimana seseorang dapat menyelesaikan suatu masalah, memperoleh pengetahuan, menggunakan pengalaman masa lalu untuk mewujudkan suatu perubahan dalam diri ke arah yang lebih baik.

 

2.8 Konsep Multiple Intelligences

 

            Teori Inteligensi ganda (multiple intelligences) ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner yang mendefinisikan bahwa inteligensi sebagai suatu kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam- macam dan dalam situasi yang nyata. Dalam pengertian tersebut sangat jelas bahwa inteligensi bukan hanya kemampuan seseorang untuk menjawab suatu test IQ dalam kamar tertutup, tetapi inteligensi merupakan kemampuan untuk memecahkan persoalan yang nyata dalam situasi yang bermacam- macam.[10]

            Teori kecerdasan majemuk memberikan pendekatan pragmatis pada bagaimana kita mendefinisikan kecerdasan dan mengajari kita memanfaatkan kelebihan siswa untuk membantu mereka belajar.[11]

Teori kecerdasan majemuk adalah validitas tertinggi gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting. (Julia Jasmine 2007:13).

2.9 Syarat dan Kriteria Suatu Inteligensi

 

            Suatu kemampuan disebut sebuah intelegensi bila menunjukkan suatu kemahiran dan keterampilan seseorang untuk memecahkan persoalan dan kesulitan yang ditemukan dalam hidupnya.[12]

  1. Syarat suatu kemampuan dapat dikatakan intelegensi adalah[13] :

1. Bersifat Universal

Kemampuan harus berlaku bagi banyak orang tidak hanya beberapa orang.

2. Dasarnya Unsur Biologis

Pada dasarnya otak seseorang bukan sesuatu yang terjadi karena latihan atau          training, tetapi kemampuan tersebut sudah ada sejak lahir walaupun dalam pendidikan       dapat dikembangkan.

  1. Kriteria suatu kemampuan dapat dikatakan intelegensi adalah[14]:

1. Terisolasi dalam bagian otak tertentu

Masing- masing kemampuan mempunyai bagian masing- masing dalam otak, apabila terjadi kerusakan otak pada bagian tertentu maka tidak akan mempengaruhi kemampuan yang lain.

2. Kemampuan itu Independen

Kemampuan tidak terkait secara ketat melainkan dapat berdiri sendiri. Pada seseorang dapat terjadi bahwa ia memiliki kemampuan tinggi disuatu bidang, tetapi rendah dibidang lainnya.

3. Memuat satuan operasi khusus

Setiap inteligensi mengandung keterampilan operasi tertentu yang berbeda satu sama lain dimana dengan keterampilan tersebut seseorang dapat mengekspresikan kemampuannya dalam menghadapi persoalan.

4. Mempunyai sejarah perkembangan sendiri

Semua inteligensi mempunyai waktunya sendiri untuk berkembang, menuju puncak lalu turun.

5. Berkaitan dengan sejarah evolusi zaman dulu

Setiap inteligensi pasti memiliki sejarah evolusinya dengan zaman dulu, seperti perkembangan manusia purba hingga manusia seutuhnya.

6. Dukungan psikologi eksperimental

Kecerdasan bekerja sangat terisolasi dengan maksud bahwa transfer kecerdasan yang satu ke kecerdasan yang lain sering tidak bisa.

7. Dukungan dari penemu psikometrik

Tipe- tipe kecerdasan yang ditemukan oleh Gardner benar.

8. Dapat disimbolkan

Kesembilan kecerdasan menurut Gardner dapat disimbolkan dengan sistem notasi yang berbeda- beda.

2.10 Aspek- aspek Multiple Intelligences

            Menurut pusat- pusat kecerdasan pada otak, kecerdasan terbagi menjadi kecerdasan linguistik dan kecerdasan logika dan matematika. Dimana kecerdasan linguistik terkait dengan kemampuan membaca, menulis, dan berkomunikasi secara verbal yang dimilikki oleh penyair, penulis, dan orator. Sedangkan kecerdasan logika dan matematika  terkait dengan kemampuan menalar dan menghitung dengan penguasa kecerdasan para ilmuwan, metematikawan, pengacara, dan hakim.[15]

Sedangkan menurut Gardner kecerdasan terbagi menjadi 9 aspek, yakni[16] :

Paul Suparno, hlm. 20

  1. a.    Kecerdasan Linguistik

Kemampuan berkaitan dengan bahasa dengan menggunakan kata secara     efektif, baik lisan (bercerita, berpidato, orator atau politisi) dan tertulis (seperti            wartawan, sastrawan, editor dan penulis). Kecerdasan ini meliputi kemampuan memanipulasi tata bahasa atau struktur, fonologi, semantik dan pragmatik. Ciri-ciri       anak dengan kecerdasan linguistic yang menonjol biasanya senang membaca, pandai          bercerita, senang menulis cerita atau puisi, senang belajar bahasa asing, mempunyai    perbendaharaan kata yang baik, pandai mengeja, suka menulis surat atau e-mail,           senang membicarakan ide-ide dengan teman-temannya, memiliki kemampuan kuat     dalam mengingat nama atau fakta, menikmati permainan kata (utak-atik kata, kata-            kata tersembunyi, scrabble atau teka-teki silang, bolak-balik kata, plesetan atau            pantun) dan senang membaca tentang ide-ide yang menarik minatnya.

  1. b.   Kecerdasan Matematis – Logis

Kemampuan menggunakan angka dengan baik (misalnya ahli matematika, fisikawan, akuntan pajak, dan ahli statistik). Melakukan penalaran (misalnya,   programmer, ilmuwan dan ahli logika). Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada pola     hubungan logis, pernyataan dan dalil, fungsi logis dan abstraksi lain. Seseorang      dengan kecerdasan matematis logis yang tinggi biasanya memiliki ketertarikan        terhadap angka-angka, menikmati ilmu pengetahuan, mudah mengerjakan matematika          dalam benaknya, suka memecahkan misteri, senang menghitung, suka membuat             perkiraan, menerka jumlah (seperti menerka jumlah uang logam dalam sebuah         wadah), mudah mengingat angka-angka serta skor-skor, menikmati permainan yang             menggunakan strategi seperti catur atau games strategi, memperhatikan antara       perbuatan dan akibatnya (yang dikenal dengan sebab-akibat), senang menghabiskan             waktu dengan mengerjakan kuis asah otak atau teka-teki logika, senang menemukan             cara kerja komputer, senang mengelola informasi kedalam tabel atau grafik dan      mereka mampu menggunakan komputer lebih dari sekedar bermain games.

  1. c.    Kecerdasan Spasial

Kemampuan mempersepsikan dunia spasial-visual secara akurat, misalnya   pemandu, pramuka, dan pemburu. Mentransformasikan persepsi dunia spasial-visual dalam bentuk tertentu. Misalnya dekorator interior, arsitek, dan seniman. Kecerdasan       ini meliputi kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ruang dan hubungan antarunsur       tersebut. Seorang anak yang memiliki kecerdasan dalam spasial biasanya lebih        mengingat wajah ketimbang nama, suka menggambarkan ide-idenya atau membuat    sketsa untuk membantunya menyelesaikan masalah, berpikir dalam bentuk gambar-        gambar serta mudah melihat berbagai objek dalam benaknya, dia juga senang             membangun atau mendirikan sesuatu, senang membongkar pasang, senang membaca         atau menggambar peta, senang melihat foto-foto/gambar-gambar serta    membicarakannya, senang melihat pola-pola dunia disekelilingnya, senang mencorat-        coret, menggambar segala sesuatu dengan sangat detail dan realistis, mengingat hal-            hal yang telah dipelajarinya dalam bentuk gambar-gambar, belajar dengan mengamati             orang-orang yang sedang mengerjakan banyak hal, senang memecahkan teka-teki   visual/gambar serta ilusi optik dan suka membangun model-model atau segala hal      dalam 3 dimensi. Anak dengan kecerdasan visual biasanya kaya dengan khayalan          sehingga cenderung kreatif dan imajinatif.

  1. d.   Kecerdasan Kinestetis

Kemampuan menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan. Misalnya sebagai aktor, pemain pantomim, atlit atau penari. Keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu, misalnya pengrajin, pematung, tukang batu, ahli mekanik. Anak yang memiliki kecerdasan dalam memahami tubuh cenderung suka bergerak dan aktif, mudah dan cepat mempelajari keterampilan-keterampilan fisik serta suka bergerak sambil berpikir, mereka juga senang berakting, senang meniru gerak-gerik atau ekspresi teman-temannya, senang berolahraga atau berprestasi dalam bidang olahraga tertentu, terampil membuat kerajinan atau membangun model-model, luwes dalam menari, senang menggunakan gerakan-gerakan untuk membantunya mengingat berbagai hal.

  1. e.    Kecerdasan Musikal

Kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal dengan cara mempersepsikan,        membedakan, mengubah dan mengekspresikan. Misalnya penikmat musik, kritikus            musik, komposer, dan penyanyi. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap irama,     pola nada, melodi, warna nada atau suara suatu lagu. Seorang anak yang memiliki     kecerdasan dalam bermusik biasanya senang menyanyi, senang mendengarkan musik,             mampu memainkan instrumen musik, mampu membaca not balok/angka, mudah     mengingat melodi atau nada, mampu mendengar perbedaan antara instrumen yang berbeda-beda yang dimainkan bersama-sama, suka bersenandung/bernyanyi sambil          berpikir atau mengerjakan tugas, mudah menangkap irama dalam suara-suara             disekelilingnya, senang membuat suara-suara musikal dengan tubuhnya       (bersenandung, bertepuk tangan, menjentikkan jari atau menghentakkan kaki), senang             mengarang/menulis lagu-lagu atau rap-nya sendiri dan mudah mengingat fakta-fakta             dengan mengarang lagu untuk fakta-fakta tersebut.

  1. f.     Kecerdasan Interpersonal

Kemampuan mempersepsikan dan membedakan suasana hati, maksud,        motivasi, serta perasaan orang lain. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap          ekspresi wajah, suara, gerak-isyarat. Jika seseorang memiliki kecerdasan dalam     memahami sesama biasanya ia suka mengamati sesama, mudah berteman, suka             menawarkan bantuan ketika seseorang membutuhkan, menikmati kegiatan-kegiatan           kelompok serta percakapan yang hangat dan mengasyikkan, senang membantu        sesamanya yang sedang bertikai agar berdamai, percaya diri ketika bertemu dengan    orang baru, suka mengatur kegiatan-kegiatan bagi dirinya sendiri dan teman-            temannya, mudah menerka bagaimana perasaan sesamanya hanya dengan mengamati         mereka, mengetahui bagaimana cara membuat sesamanya bersemangat untuk bekerja           sama atau bagaimana agar mereka mau terlibat dalam hal-hal yang diminatinya, lebih    suka bekerja dan belajar bersama ketimbang sendirian, dan senang bersukarela untuk        menolong sesama. Anak yang memiliki kecerdasan interpersonal biasanya disukai             teman-temannya karena ia mampu berinteraksi dengan baik dan memiliki empati yang       besar terhadap teman-temannya.

  1. g.    Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan ini meliputi kemampuan memahami diri sendiri secara akurat    mencakup kekuatan dan keterbatasan. Kesadaran akan suasana hati, maksud,             motivasi, temperamen, keinginan, disiplin diri, memahami dan menghargai diri.         Seorang anak yang memiliki kecerdasan dalam memahami diri sendiri biasanya lebih    suka bekerja sendirian daripada bersama-sama, suka menetapkan serta meraih         sasaran-sasarannya sendiri, mengetahui bagaimana perasaannya dan mengapa     demikian dan seringkali ia menghabiskan waktu hanya untuk merenungkan dalam-   dalam tentang hal-hal yang penting baginya. Anak dengan kecerdasan intrapersonal             biasanya sadar betul akan bidang yang menjadi kemahirannya dan bidang dimana dia        tidak terlalu mahir. Anak seperti ini biasanya sadar betul akan siapa dirinya dan ia         sangat senang memikirkan masa depan dan cita-citanya di suatu hari nanti.

  1. h.   Kecerdasan Naturalis

Keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies, flora dan fauna di          lingkungan sekitar. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada fenomena alam. Misalnya    formasi awan dan gunung. Seorang yang memiliki kecerdasan dalam memahami alam biasanya suka binatang, pandai bercocok tanam dan merawat kebun di rumah atau di lingkungannya, peduli tentang alam serta lingkungan. Selain itu ia juga senang       berkemah atau mendaki gunung di alam bebas, senang memperhatikan alam            dimanapun dia berada, mudah beradaptasi dengan tempat dan acara yang berbeda-        beda.

  1. i.      Kecerdasan Eksistensial

Keahlian pada berbagai masalah pokok kehidupan dan aspek eksistensial    manusia serta pengalaman mendalam terhadap kehidupan. Kecerdasan ini biasanya      dimiliki oleh para filsuf.

            Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, aspek multiple intelligences mencakup juga kecerdasan spiritual, yakni :

Keyakinan dan mengaktualisasikan akan sesatu yang bersifat transenden atau         penyadaran akan nilai-nilai akidah-keimanan, keyakinan akan kebesaran Tuhan.          Kecerdasan ini meliputi kesadaran suara hati, internalisasi nilai, aktualisasi, dan       keikhlasan. Misalnya menghayati batal dan haram dalam agama, toleransi, sabar,   tawakal, dan keyakinan akan takdir baik dan buruk. Mengaktualisasikan hubungan            dengan Tuhan berdasarkan keyakinannya.

2.11 Multiple Intelligences atau Kecerdasan Ganda Dalam Pembelajaran

Teori kecerdasan majemuk ini menjelaskan fungsi kognitif yang menyatakan bahwa seseorang memiliki kapasitas dalam kesepuluh kecerdasan tersebut dan berjalan secara bersamaan dengan cara yang berbeda pada setiap orang. Orang pada umumnya mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan tertentu. Kecerdasan umumnya bekerja bersamaan dengan cara yang kompleks, karena kecerdasan selalu berinteraksi satu sama lain. Kecerdasan majemuk menekankan keanekaragaman cara orang menunjukkan bakat baik dalam satu kecerdasan tertentu maupun antarkecerdasan.

Setiap individu memiliki kesepuluh kecerdasan dan dapat dikembangkan sampai pada tingkat kompetensi yang paling optimal. Di sisi lain, masing-masing anak memiliki kecenderungan terhadap kecerdasan tertentu atau kelebihan yang ditunjukkan melalui perilaku spesifik. Dalam pembelajaran harus dihindari pembatasan kemampuan hanya dalam satu kategori atau wilayah kecerdasan tertentu saja. Tetapi lebih penting bagaimana anak di perlakukan sebagai orang yang sedang melakukan perjalanan hidupnya dengan cara yang memungkinkan mengoptimalkan apa yang ada dalam dirinya.

Dalam proses pembelajaran di sekolah, pengembangan kecerdasan dapat dilakukan dengan teknik “tutor sebaya”, dengan cara guru menyeleksi anak yang memiliki keunggulan dalam bidang tertentu. Anak yang memiliki keunggulan di bidang matematika misalnya,  diminta untuk membimbing teman-temannya yang kurang dalam bidang matematika. Demikian juga untuk bidang kecerdasan yang lain.

Menilai potensi dan cara anak dalam mencapai tujuan tertentu merupakan langkah awal dalam mengenal kecerdasan ganda. Tidak sada satu tes pun yang dapat menghasilkan keputusan yang komprehensif mengenai kecerdasan dan potensi pembelajar. Tidak selamanya tes formal mampu memberikan informasi yang cukup mengenai kecerdasan seseorang, namun perlu dilengkapi dengan berbagai alat uji lain seperti catatan sederhana, laporan pertumbuhan fisik, dan observasi. Indikator pengamatan yang baik dapat menunjukkan kecenderungan terhadap aspek kecerdasan seseorang, terutama cara menggunakan waktu luang, minat terhadap suatu objek, kebiasaan dan tindakan yang menonjol. Secara sederhana observasi membantu dalam menggali kecenderungan kemampuan seseorang dan menentukan wilayah lain yang perlu dioptimalkan. Menyatukan seluruh kecerdasan yang dimiliki menjadi prinsip yang dipegang oleh pendidik dan orang tua.[17]

2.12 Strategi Pengajaran Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk)

 

Strategi pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan anak mengembangkan kecerdasan majemuknya dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya. Strategi pengajaran yang dapat dilakukan antara lain :

1)   Kecerdasan Linguistik (Word Smart)

  • Mengajak anak berdialog dan berdiskusi
  • Membaca cerita
  • Bermain peran
  • Mengisi buku harian dan menulis surat
  • Guru dapat menunjukan bahwa puisi dapat menyampaikan emosi

2)   Kecerdasan Logika Matematika (Logic Smart)

  • Menggunakan grafik, tabel, dan bagan waktu
  • Guru meminta siswa menunjukkan urutan
  • Menggunakan diagram Venn untuk membandingkan
  • Bermain puzzle, catur, dsb.

3)   Kecerdasan Kinestetik (Body Smart)

  • Menyediakan kegiatan untuk tangan bergerak
  • Membuat model kegiatan yang memerlukan keterampilan motorik halus
  • Berolahraga
  • Guru mengajak siswa meniru gerakan orang lain atau menari

4)   Kecerdasan Spasial

  • Pemahaman materi pelajaran melalui gambar
  • Meminta siswa menggamabar
  • Membuat prakarya
  • Bermain bongkar pasang dengan puzzle, lego,dsb

5)   Kecerdasan Intrapersonal (Self Smart)

  • Membiarkan siswa belajar sendiri
  • Membicarakan cita- cita siswa
  • Menciptakan suasana kelas yang tenang agar siswa dapat bekerja sendiri

6)   Kecerdasan Interpersonal (People Smart)

  • Menugaskan siswa dalam kerja kelompok
  • Mengadakan tutor sebaya
  • Menerapkan diskusi dalam penyelesaian masalah

7)   Kecerdasan Musikal

  • Mengajak siswa bermain alat musik
  • Mengajak siswa mendengarkan musik
  • Mengajak siswa bernyanyi bersama- sama

8)   Kecerdasan Naturalis

  • Menjadikan alam terbuka sebagai tempat belajar
  • Memelihara tanaman disekitar lingkungan sekolah
  • Mengadakan percobaan- percobaan
  • Mengajak siswa bersama- sama menanam pohon dilingkungan sekolah

9)   Kecerdasan Eksistensial

  • Mendampingi siswa dalam berbagai kegiatan moral yang positif

10)         Kecerdasan Spiritual

  • Menerapkan pendidikan keagamaan dengan baik

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

 

            Quantum Teaching memiliki beberapa kata kunci yang harus dipahami sebelum mengetahui materi- materi yang lebih dalam, yakni: Quantum yang berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya, pemercepatan belajar yaitu menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara efektif penyajian, dan “keterlibatan aktif”, fasilitasi merupakan memudahkan segala hal dalam menyingkirkan hambatan belajar, mengembalikan proses belajar ke keadaan yang mudah dan alami.

Penerapan Quantum Teaching dalam pembelajaran yakni melalui pembelajaran aktif, reatif, efektif, dan menyenangkan.

Teori Inteligensi ganda (multiple intelligences) ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner yang mendefinisikan bahwa inteligensi sebagai suatu kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam- macam dan dalam situasi yang nyata.

Teori kecerdasan majemuk ini menjelaskan fungsi kognitif yang menyatakan bahwa seseorang memiliki kapasitas dalam kesepuluh kecerdasan tersebut dan berjalan secara bersamaan dengan cara yang berbeda pada setiap orang. Strategi pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan anak mengembangkan kecerdasan majemuknya dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Suparno, Paul. 2004. Teori Intelegensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah, Teori Howard   Gardner. Yogyakarta : Kanisius

DePorter, Bobbi. 2003. Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-            ruang Kelas. Bandung : Kaifa

Dra. Siregar, Eveline , Hartini Nara. 2011. Buku Ajar Teori Belajar dan Pembelajaran.      Jakarta: Universitas Negeri Jakarta

Amstrong, Thomas. 2002. Setiap Anak Cerdas: Panduan membantu anak belajar dengan memanfaatkan multiple intelligence-nya. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka.

C.  Asri Budiningsih. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Citra.

http://dian-fajriyah.blogspot.com/ Waktu Akses 03 November 2012  17:44

http://khairuddinhsb.blogspot.com/2010/04/quantum-teaching.html/ Waktu Akses 03 November 2012 23:34

 


[1] Bobbi DePorter, Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas, (Bandung :

Kaifa, 2003), hlm.32

[2] Dra. Eveline Siregar,M.Pd , Hartini Nara,M.Si , Buku Ajar Teori Belajar dan Pembelajaran (Jakarta :

Universitas Negeri Jakarta, 2011), hlm.71

[3] Bobbi DePorter, hlm.34

[4] Bobbi DePorter, hlm. 34

[5] Bobbi DePorter, hlm. 34-35

[6] Dra. Eveline Siregar,M.Pd , Hartini Nara,M.Si, hlm.73

[7] Dra. Eveline Siregar,M.Pd , Hartini Nara,M.Si, hlm.73-82

[8] Bobbi DePorter, hlm. 39-40

[9] Paul Suparno, Teori Intelegensi Ganda (Yogyakarta : Kanisius, 2004), hlm. 17

[10] Paul Suparno, hlm. 18

[11] Thomas R. Hoerr , Buku Kerja Multiple Intelligences (Bandung : Kaifa, 2007), hlm. 7

[12] Paul Suparno, hlm. 21

[13] Paul Suparno, hlm. 22

[14] Paul Suparno, hlm. 23-25

[15] Dr. H. Mahmud, M.Si. ,Psikologi Pendidikan (Bandung : CV Pustaka Setia, 2010), hlm. 279

[16] Paul Suparno, hlm. 20

[17] C.  Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran,  (Jakarta : PT. Rineka Citra, 2005)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s